Saturday, May 4, 2013
Friday, May 3, 2013
AFRICAN SPURRED TORTOISE (GEOCHELONE SULCATA)
African Spurred Tortoise (Geochelone sulcata) atau Sulkata, berasal dari daerah Afrika. Sulkata adalah kura darat nomor tiga terbesar di dunia. Panjang plastron (tempurung bagian bawah) dapat mencapai 78 cm.
Musim kawin adalah sekitar bulan Juni hingga Maret frekuensi terbesar adalah September sampai November. Bertelur pada menjelang musim kemarau, dengan jumlah hingga 17 butir. Telur-telur ini akan menetas setelah 212 hari.
CAPTIVE BREED
Pejantan Sulcata Turtoise tiba pada masa siap kawin ketika diameter tubuhnya mencapai 35cm. Di iklim Indonesia Musim kawin bisa terjadi setiap saat dari bulan September hingga Januari, walaupun pada kenyatannya perkawinan sering terjadi setelah musim penghujan. Hal pertama yang anda harus persiapkan adalah ruangan yang cukup luas bagi kedua induk, karena dalam ruangan yang sempit, pejantan yang sangat agresif dapat melukai tubuh terutama tempurung betina. Pindahkan juga pejantan lainnya karena pejantan lain dapat menganggu proses perkawinan, para pejantan cenderung untuk bertarung satu sama lain hingga dapat berakibat fatal. Satu pejantan sudah cukup untuk mengawini empat betina. Tetapi kalo keadaan tempat gak memungkinkan, mau gimana lagi. Anda akan melihat mereka mulai kawin ketika ketika pejantan bergerak untuk mengarahkan betina dengan berbagai cara, misalnya membatasi pergerakan betina dengan mengitarinya atau bahkan sampai memblokade jalannya. Alasan pejantan melakukan ini adalah untuk menghentikan pergerakan betina selama mungkin agar pejantan memiliki waktu untuk mengambil posisi menumpuk diatas betina. Biasanya proses perkawinan akan disertai dengan raungan dan erangan yang cukup berisik.
*Proses Bertelur*
Tubuh betina akan mulai membengkak selang beberapa waktu setelah kawin, ini merupakan indikasi bahwa betina telah terbuahi dan tubuhnya penuh dengan telur. Betina akan mulai mengurangi jatah makannya dan menampakan tanda-tanda kegelisahan. Ini disebabkan karena betina sedang mencari sarang bagi telur-telurnya. Setelah enam hingga delapan minggu dari waktu perkawinan betina mulai bertelur.
Pertama kali yang dilakukan betina setelah menemukan lokasi sarang, ia akan membersihkan dataran tanah/pasir dengan kakinya, lalu mengencingi tanah tersebut dan menggalinya. Kedalaman sarang berukuran kira-kira 7 cm hingga 14 cm dengan diameter 60 cm ketika betina merasa sarangnya telah cukup dalam, dia akan memutar balik posisi badan hingga ekor menghadap kedalam sarang lalu mulai bertelur. Selama ia meletakkan telurnya, kedua kaki belakang bekerja untuk mengubur telur-telurnya dengan tanah.
Beberapa betina akan menggali empat hingga lima lubang sarang sebelum ia memutuskan untuk bertelur. Proses bertelur ini dapat memakan waktu kurang lebih hingga lima jam. Seekor betina mampu bertelur 15 sampai 42 butir dan setiap telur memakan waktu hingga 3 menit untuk keluar. Setelah selesai bertelur, dia akan menutupi sarangnya dan memakan waktu kurang lebih satu jam. Pada saat ini betina sangat protektif dengan sarang telurnya, dia akan bersikap agresif hingga terkadang menyerang apapun atau siapapun yang mendekati sarangnya. Jadi sebaiknya anda amankan betina tersebut dari makhluk lain selama ia bertelur.
Biasanya betina akan berjaga pada sarangnya hingga tiga hari kedepan, jika anda ingin mengumpulkam telur-telur tersebut sesegera mungkin, berhati-hatilah karena ada kemungkinan besar induk betina akan menyerang anda dengan ganas. Tak jarang pula beberapa betina bersikap jinak, mereka hanya akan menutupi kembali sarangnya setelah anda kosongkan.
*Inkubasi/Pengeraman*
Ada dua cara yang dapat anda tentukan sendiri untuk pengeraman telur. Cara pertama adalah dengan membiarkan telur pada sarangnya hingga menetas secara alami delapan bulan kemudian. Tapi anda harus benar-benar yakin bahwa lingkungan sarang aman dari pemangsa telur dan suhu berkisar antara 82F/64C hingga 86F/68C.
Cara kedua adalah mengumpulkan telur secepat mungkin dari sarangnya, terutama jika sarang telur berada diluar ruangan tertutup. Hal ini untuk menghindari rusaknya telur dari pemangsa. Letakan telur pada sebuah wadah dan kuburkan dengan “vermiculite” ditambah air dengan berat rasio 1:5. Ukurlah suhu diantara 82F/64C hingga 86F/68C. Telur akan menetas dalam waktu 100 hingga 200 hari. Pada umumnya telur akan menetas secara bersamaan dalam waktu beberapa hari saja, tapi terkadang telur-telur tersebut menetas dengan selisih waktu yang cukup lama, yaitu dari jangka waktu satu minggu sampai satu bulan untuk menetas semuanya. Setelah menetas biarkan bayi-bayi tortoise di tempat inkubasi hingga cairan telur merembes, lalu angkatlah mereka dan letakkan diatas handuk bersih untuk mengeringkan tubuhnya. Sifat dasar dari Sulcata Tortoise adalah agresif terhadap sesama jenisnya. Keagresifan ini telah dimulai pada saat mereka baru saja menetas. Bayi-bayi Sulcata Tortoise akan saling menerjang satu sama lain hingga tubuh lawannya terbalik.
HABITAT
Sulkata tersebar dari Sudan, Ethiophia, Togo,hingga Mali dan Mauritania. Secara general penyebarannya berada di bagian utara dari Gurun Sahara. Untuk menghindari dari panas yang menyengat, sulkata menggali lubang untuk berteduh dengan menggunakan kakinya yang sangat kuat.
PEMELIHARAAN
Karena berasal dari negara yang beriklim kering, Sulkata hanya perlu diberi minum seminggu 1x. Kura ini tidak menyukai tempat pemeliharaan yang lembab. sulcata kecil walau menyukai panas namun gampang sekali mengalami dehidrasi. Tempat pemeliharaan harus sejuk dan kering jangan di berikan tempat air minum didalam kandang. Kura kecil harus dijemur pada pagi hari atau menggunakan lampu sekitar 25 atau 40watt agar tetap kering dan hangat serta uvb light.Jangan memberikan air minum di kandang buat jenis sulcata.
JANGAN MENJEMUR KURA-KURA TERLALU LAMA
Kalau menjemur terlalu lama kura-kura dapat mengalami dehidrasi dan menyebabkan kematian, usahakan hingga badannya hangat atau memberi tempat perlindungan pada kandang kura-kura sehingga jika terlalu panas kura tersebut dapat menjauhkan diri/bersembunyi di tempat teduh.
JANGAN MENJEMUR KURA-KURA TANPA DIAWASI
Biarpun kelihatan lambat, tapi kura-kura juga pandai melarikan diri.
Pada musim hujan gunakan lampu khusus reptil yang mengandung UVA-UVB (Full spectrum Lamp).
UVA digunakan untuk menambah selera makan dan memproses makanan di tubuh reptil. UVB digunakan untuk memproses Vitamin D3 pada makanannya karena reptil tidak bisa mensintesa Vitamin D3 tanpa bantuan UVB.
Tempat berjemur diusahakan mempunyai suhu 31-34˚C, sedang suhu kandang sekitar 28-32˚C. Gunakan termometer untuk mengukur suhu jangan kira-kira, karena kadang perkiraan kita meleset jauh.
MAKANAN YANG BAIK UNTUK SULCATA
Fumak, kaktus centong caisim, selada, wortel, bunga sepatu, daun murbei, alfalfa, Bermuda grass. Untuk pemberian makanan jgn diberikan yg tinggi protein karena meyebabkan pyramiding. Contoh: Toge. Sayur kacang panjang ini tidak baik untuk kura darat.Sulcata harus makan makanan yg tinggi dengan serat (high in fiber)
KRITERIA KURA DARAT YANG SEHAT
- Mata bersih tidak berair
- Nafsu makan bagus
- Badan berat, aktif
- Tidak ada luka pada Scute (sambungan pada tempurung)
- Hidung kering.
(Kura-kura dapat dipelihara di tempat ber AC dengan bantuan dari lampu agar tidak kedinginan)
VITAMIN UNTUK KURA-KURA
Untuk kura-kura dengan variasi makanan yang bagus, sudah cukup hanya diberi tambahan Kalsium. Kalsium yang ada dipasaran sekarang ini adalah Rep-Cal, dapat juga diganti dengan tulang cumi/sotong yg kering.
- Jika kura-kura tersebut tidak mau makan tetapi badannya tetap berat, coba rendam dengan air hangat, biasanya karena kotoran tidak mau keluar AIR RENDAMAN JANGAN TERLALU DALAM
- JANGAN DIBERI MAKAN DOG FOOD untuk sulcata atau mazuri karena meyebabkan pyramiding
Sumber : Kampung Kura Jatim
SULAWESI FOREST TURTLE (LEUCOCEPHALON YUWONOI)
Kura kura hutan Sulawesi atau kura kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle) yang dalam bahasa latin disebut Leucocephalon yuwonoi adalah salah satu jenis kura kura yang termasuk langka. Kura kura hutan sulawesi (kura kura paruh betet) termasuk dalam salah satu dari 7 jenis reptil paling langka yang terdapat di Indonesia, bahkan kura kura ini juga termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles, 2011 yang dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition.
Kura kura hutan sulawesi yang dipertelakan pada tahun 1995 ini sering disebut juga sebagai kura kura paruh betet dikarenakan bentuk mulutnya yang meruncing dan mirip dengan paruh burung betet. Dalam bahasa Inggris kura kura hutan Sulawesi yang endemik pulau Sulawesi ini disebut sebagai Sulawesi Forest Turtle. Sedangkan resminya kura kura ini mempunyai nama latin Leucocephalon yuwonoi yang bersinonim dengan Geoemyda yuwonoi dan Heosemys yuwonoi. Sebelumnya kura kura hutan Sulawesi digolongkan dalam genus Heosemys, tapi sejak tahun 2000 kura kura ini dimasukkan dalam genus tunggal Leucocephalon. Kata ‘yuwonoi’ dalam nama ilmiahnya merujuk pada Frank Yuwono yang kali pertama memperoleh spesimen pertama kura kura hutan sulawesi ini di sebuah pasar di Gorontalo, Sulawesi.
Ciri ciri Kura kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) adalah tubuhnya berukuran sedang dengan karapas sepanjang 28 hingga 31 cm untuk kura kura jantan dan 20 hingga 25 cm untuk kura kura betina. Daerah sebarannya hanya terdapat di pulau Sulawesi bagian utara. Karenanya hewan langka ini merupakan hewan endemik pulau Sulawesi, Indonesia dan tidak ditemukan di daerah lain. Tidak banyak yang diketahui tentang perilaku alami kura kura hutan sulawesi ini. Kura kura hutan sulawesi yang merupakan hewan diurnal banyak menghabiskan waktu di hutan dan hanya berpindah ke air ketika malam untuk beristirahat dan melakukan perkawinan. Pada tahun 1990an diperkirakan populasi kura kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) masih sangat banyak tapi saat ini diperkirakan populasinya di alam liar berkurang banyak hingga jumlahnya tidak lebih dari 250 ekor. Seperti biasa, ancaman utama populasi kura kura langka ini adalah perburuan dan perdangan bebas sebagai bahan makanan dan hewan peliharaan. Pada awal tahun 1990 an, sekitar 2.000 hingga 3.000 ekor diperkirakan diperdagangkan ke China sebagai bahan makanan. Selain itu kura kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) juga banyak diekspor ke Eropa dan Amerika sebagai hewan peliharaan. Selain perburuan, rusaknya habitat akibat kerusakan hutan yang disebabkan oleh penebangan kayu komersial, pertanian skala kecil dan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit juga menjadi ancaman bagi kelangsungan populasi kura kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi). Hal ini semakin diperparah oleh rendahnya tingkat reproduksi kura kura hutan sulawesi (Sulawesi Forest Turtle).
Karena jumlah populasi yang sedikit dan sifatnya yang endemik, kura kura paruh betet ini dikategorikan sebagai spesies Critically Endangered atau sangat terancam punah oleh IUCN Red List. Bahkan The Turtle Conservation Coalition, sebuah koalisi konservasi kura kura yang terdiri atas berbagai lembaga konservasi seperti IUCN/SSC Tortoise and Freshwater Turtle Specialist Group, Wildlife Conservation Society (WCS), Turtle Survival Alliance (TSA), Conservation International (CI) dan lainnya memasukkan kura kura hutan sulawesi sebagai salah satu dari 25 Kura Kura Paling Langka dan Terancam Punah Di Dunia (The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles) Tahun 2011.
Organisasi perdangan satwa dunia, CITES, juga telah memasukkan kura kura hutan sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) dalam daftar CITES Apendix II. Dengan demikian perdagangan internasional kura kura langka dan endemik Sulawesi ini TIDAK diperbolehkan.
Ironisnya, berbagai organisasi konservasi dunia menaruh perhatian bagi kelestarian kura kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle) tapi pemerintah Indonesia adem ayem aja. Karena aneh tapi nyata, di Indonesia sendiri, kura kura hutan Sulawesi ternyata bukan termasuk satwa yang dilindungi.
Sumber : Kampung Kura Jatim
Tuesday, April 30, 2013
ASIAN LEAF TURTLE (CYCLEMYS DENTATA)

Kura-kura bergerigi atau Asian Leaf Turtle yang memiliki nama ilmiah Cyclemys dentata ini mendapatkan namanya dari gerigi gerigi yang terdapat pada perisainya. Kura-kura Asian Leaf yang termasuk dalam family Geoemydidae dengan genus Cyclemys ini sering diperjual-belikan sebagai hewan peliharaan. Kura kura ini juga dikenal dengan sebutan kura-kura ceper. Ada juga yang menyebutnya sebagai kura-kura daun Asia, mengikuti namanya dalam bahasa Inggris, Asian Leaf Turtle.
Kura-kura Asian Leaf yang biasa hidup di air tawar yaitu di sungai sungai besar atau kecil yang aliran airnya lambat. Panjang tempurungnya atau karapasnya bisa mencapai panjang 24 cm saat dewasa. Kura kura Asian Leaf memiliki lima buah keping sisik vertebral di bagian tengah punggungnya. Keping-keping vertebral ini memiliki tonjolan memanjang, namun tonjolan ini cenderung akan menghilang setelah dewasa. Lehernya memiliki garis-garis memanjang, berwarna kekuningan atau kemerahan. Keping-keping sisik pada plastron atau penutup dada dan perut dihiasi dengan coretan-coretan radial berwarna kehitaman bercorak tebal atau tipis sampai mengabur.
Kura-kura ceper yang sesungguhnya yang biasa diperdagangkan adalah beiyogo yang bernam ilmiah Notochelys platynota. Dua jenis kura kura ini bisa dibedakan dari keping vertebral ke-5 atau ke-6 (kedua dari belakang) yang jauh menyempit dibandingkan dengan keping sebelum dan sesudahnya. Sedangkan kura-kura matahari atau kura-kura duri (Heosemys spinosa) memiliki gerigi pada semua keping marginalnya, bukan hanya pada keping marginal di bagian belakang.
Kura-kura ini menyebar dari India bagian utara, Bangladesh, Burma, Cina, Kamboja, Vietnam,Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia dan Filipina. Di Indonesia kura kura ini bisa didapati di Mentawai, Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali. Cyclemys dentata banyak diperdagangkan untuk dipelihara. Selain itu, bagi penduduk yang masih tradisional, hewan ini juga menjadi buruan untuk memenuhi kebutuhan protein di pedalaman. Meskipun mengalami tekanan sedemikian hingga populasinya hampir terancam punah, hewan ini belum dilindungi oleh undang-undang.
Sumber : Kampung Kura Jatim
Monday, April 29, 2013
BLACK KNOBBED MAP TURTLE (GRAPTEMYS NIGRINODA)

Black knobbed Map Turtle (Graptemys nigrinoda) yang sebelumnya dikenal sebagai kura kura sawback black knobbed adalah kura kura air yang berukuran kecil hingga sedang dengan warna kulit abu abu terang. Beberapa karakteristik yang paling membedakan kura kura ini dan genus Graptemys adalah adanya ‘paku’ yang menonjol pada tempurung kura kura. Mereka hanya mampu bertahan di air tawar, sehingga mereka hanya ditemukan dalam sistem sungai air tawar. Jenis ini biasanya terdapat di sungai sungai di Mobile Bay, Alabama dan Mississippi.
Tempurung dari Graptemys nigrinoda sedikit berkubah pada 4 tulang belakang pertama yang berbentuk menonjol dan berwarna hitam. Pada kura kura betina yang dewasa tonjolan ini akan berkurang . Tempurung kura kura ini berwarna gelap atau berwarna zaitun kecoklatan. Pada tiap pleura atau palte- dari tempurung berwarna kuning hijau dan warna hitam yang berbentuk cincin yang melingkar. Tukik kura kura ini berwarna mirip dengan yang dewasa tapi warnanya cenderung lebih cerah dan kontras.
Kepala kura kura ini kecil dan berwarna coklat gelap, bergaris garis kuning dengan crescent kuning di belakang mata yang menghadap ke ujung posterior dari kura kura. Garis garis ini terus ada hingga di kaki kura kura dengan bagian bawah yang lebih muda warnanya dari permukaan dorsal.
Kura kura betina berukuran dua kali jantan. Tempurung betina juga cenderung lebih tinggi daripada yang jantan, meskipun kura kura jantan memiliki ekor yang lebih panjang dari betina. Kira kira ukuran kura kura dewasa adalah mulai 7,6 hingga 10,2 cm pada jantan dan 10,2 hingga 19,1 cm pada kura kura betina.
Berjemur adalah kegiatan yang sangat disukai kura kura ini, biasanya saat pagi hari dan sore hari. Termoregulasi diperkirakan menjadi alasan utama untuk berjemur juga untuk penghapusan parasit dan pertumbuhan alga. Jika didekati, mereka akan melompat ke air di dekatnya. Setelah berada di dalam air, kura kura ini akan mencari perlindungan di antara cabang cabang pohon yang tumbang di dasar sungai. Sebagian besar mereka tinggal di dasar sungai yang berpasir dan sungai yang berdasar tanah liat dengan arus yang tidak terlalu deras. Tukik lebih memilih hidup di air yang tenang.
Spesies ini mengkonsumsi kumbang dan capung yang jatuh ke sungai. Tapi ada perbedaan menu makanan pada jantan & betina. Setelah pemeriksaan dari kedua masalah perut jantan & betina, ditemukan perbedaan persentase bahan makanan. Jantan memiliki sekitar 58% makanan dari hewani yang terdiri dari moluska dan serangga dan 40 % dari tumbuhan, sementara betina memiliki 70% makanan hewani dan 29% tumbuhan yaitu ganggang air tawar.
Kura jantan mencapai kematangan seksual pada umur 3 hingga 4 tahun dan betina mencapai kematangan pada umur 7 hingga 8 tahun. Betina akan bertelur sekitar 5 butir telur dalam satu clutch dan dapat menghasilkan 3 hingga 4 clutch per tahun. Saat ini kura kura jenis ini diklasifikasikan sebagai hewan yang terancam punah oleh US Fish and Wildlife Service dalam kategori sub 3 C, dan diklasifikasikan sebagai hewan yang Hampir Terancam oleh IUCN Red List. Kura kura ini kemungkinan besar terancam oleh degradasi habitat dan gangguan oleh manusia. Manusia biasanya menyingkirkan batang kayu yang mati dari pinggir sungai yang biasanya digunakan kura kura untuk berjemur di bawah sinar matahari. Gangguan yang tidak langsung pada sarang mereka juga mungkin akan menjadi masalah. Selain itu populasi kura kura ini bisa menurun akibat konsumsi telur mereka oleh manusia atau predator lainnya. Nelayan juga meskipun dalam banyak kasus tidak sengaja, dapat membunuh kura kura melalui jaring mereka.
Sebagian besar daerah habitat spesies ini adalah daerah yang dilindungi, tetapi sungai sungainya tetaplah rentan. Mobile River Basin Aquatic Ecosystem Recovery Plan atau perencanaan pemulihan ekosistem air telah diterapkan untuk mengatasi kebutuhan dari kurang lebih 22 spesies air. Salah satunya dalah spesies kura kura perut merah (Pseudemys rubriventris) yang habitatnya tumpang tindih dengan Graptemys nigrinoda. Karena inilah hal tersebut akan bermanfaat bagi kura kura black knobbed.
Penangkaran juga sudah menjadi pilihan bagi upaya konservasi. Penangkaran adalah kegiatan yang sangat masuk akal untuk meningkatkan ukuran populasi di penangkaran. Tapi masih belum jelas apakah hasil penangkaran kura kura black knobbed akan berkembang biak sendiri setelah dilepaskan di habitat aslinya.
Sumber : Kampung Kura Jatim


10:31 PM
Lindung Budiyantoro



