Monday, June 3, 2013

KURA-KURA MONCONG BABI (CARETTOCHEYLYS INSCULPTA)


KURA-KURA MONCONG BABI (CARETTOCHEYLYS INSCULPTA)

          Moncong babi adalah kura-kura yang sangat aneh. Tampangnya yang morfologikal, pengetahuan yang terbatas dan grup kebetulan semua menyebabkan penaruhan filogenetika yang tidak benar dan juga mengenai sejarah alam yang tidak pasti. Data fosil untuk genus kura-kura ini kembali ke Miocene di Papua New Guinea. Ramsay pertama kali menerangkan jenis ini dari material yang dikumpulkan pada tahun 1885 dari ekspedisi Royal Geographic Society, lokasi di sungai Strickland. Pertama kali dideskripsikan sebagai Pleurodire dan diajukan sebagai hubungan kura-kura air tawar dan kura-kura air laut. Genus ini lalu ditetapkan ke keluarga baru Carrettochelyidae dan Baur memindahkan ke Carretochelys dan keluarga Carretochelyidatenya ke Cryptodires dan memperlihatkan persamaannya ke Trionychia.

          Tulisan yang mendalam yang pertama kali dicetak tentang kebutuhan pemeliharaan atau prilaku di captivity moncong babi adalah tulisan yang ditulis oleh Dorrian. Tulisan lainnya seperti Konservasi Biologi kura-kura moncong babi oleh Georges dan Rode atau Moncong babi oleh Bargeron membahas sedikit tentang pemeliharaan, meninggalkan beberapa informasi yang berguna.

          Di seluruh dunia ini ada beberapa kebun binatang dan individu yang memelihara kura-kura ini. Kebun binatang ini adalah Bronx Zoo di New York USA, Pittburgh Zoo di New Jersey USA Zoological Garden Wilhelma di Stuttgart, Germany, Territory Wildlife Park di Berry Springs, Australia, Taronga Park Zoo di Sydney, Australia, Hartley Creek Crocodile Farm di Cairns, Australia, Australia Zoo di Beewah, Australia dan the University of Canberra di Australia.
Pengarang junior dan senior telah memelihara kura-kura ini selama beberapa tahun dan telah melakukan banyak pengamatan dan dirangkum pada tulisan ini.

          Karena kura-kura moncong babi adalah perenang yang baik, aquarium yang luas menjadi suatu keharusan. Alasan lainnya untuk menggunakan aquarium besar adalah karena kura-kura ini dapat tumbuh sampai 22,5 kg dan panjang 56.3 cm. Ukuran aquarium harus memberi kura-kura bergerak bebas dan juga dapat bersembunyi jika diperlukan. Waktu kura-kura ini ketakutan, mereka kabur seperti roket. Kura-kura muda diamati dapat melompat dari aquarium yang satu ke aquarium lainnya yang bersebelahan yang permukaannya hanya 2 cm dari ujung aquarium. Tambah besar aquarium, lebih kecil kesempatan untuk kura-kura terluka.

          Karena kura-kura moncong babi dapat menjadi agresif kepada yang lainnya, aquarium besar juga dapat membantu menurunkan kepadatan. Prilaku agresif akan jelas terlihat. Prilaku agresif ini sudah dapat terlihat pada kura-kura yang hanya berumur enam bulan, tetapi dapat pula prilaku ini muncul pada umur yang lebih muda. Sebaliknya, Roempp mengatakan bawah setelah memiliki lima tahun kura-kura ini mulai memperlihatkan prilaku yang agresif satu sama lainnya. Prilaku agresif diperlihatkan dengan menggigit dan daerah yang sering digigit adalah ujung poseterior pada karapas, peripherals keenam sampai kesepuluh dan pygal, bagian dorsal leher dan lekukan kulit yang memanjang lateral pada setiap sisi dari dibawah permukaan ekor ke daerah paha dan turun ke lengan belakang. Karena rahangnya yang baik, gigitannya cukup menyakitkan dan dapat berdarah.

          Pasir kali yang telah dicuci bersih dapat dipakai sebagai lapisan dasar aquarium. Jika lapisan cukup tebal, dapat menyediakan sebagai tempat persembunyian atau peristirahatan untuk kura-kura moncong babi karena mereka mebenamkan/mengubur mereka sendiri. Di beberapa occasions, mereka diamati melakukan ini sampai unjung probosics. Jika kepadatan jumlah kura-kura sangat tinggi maka pemakaian lapisan pasir yang tebal, dengan kayu/dahan/akar air dianjurkan untuk memberi tempat persembunyiaan dan mencegah kura-kura mengigit satu sama lain.

          Kelihatannya kura-kura moncong babi dapat berprilaku sangat berbeda pada toleransi dengan jenis testudines lainnya.

          Menurut Dorrian, kura-kura moncong babi tidak memperlihatkan sifat agresif mereka terhadap kura-kura dari Chelidae (Macrochelodina expansa, Macrochelodina rugosa, Chelodina longicollis, Emydura macquarii krefftii and Elseya latisternum).

           Sebaliknya, menurut Roempp ada beberapa masalah yang ditimbulkan dalam memelihara kura-kura moncong babi bersama kura-kura jenis lainnya. Saya mempunyai masalah dengan Macrchelodina rugosa betina. Kura-kura betina ini mendapat beberapa gigitan yang parah di lengan belakangnya oleh kura-kura moncong babi betina saya.; Kejadian yang sama terjadi terhadap Macrochelodina expansa. Sebaliknya kura-kura moncong babi jantan tidak pernah agresif terhadap jenis lainnya.Saya tidak tahu jika sifat agresif tergantung pada jenis kelamin. Penulis senior memelihara empat moncong babi dengan Emydura subglobosa muda dan dewasa, jenis sympatric dan tidak ada tanda-tanda agresif terhadap jenis ini.

          Untuk masalah suhu air ada beberapa macam pendapat. Dorrian menganjurkan airnya dihangatkan secara konstan pada suhu 26-27°C sedangkan Bargeron menyatakan suhu air harus antara 26.1°C dan 30°C. Georges dan Rose menganjurkan suhu air antara 28-30°C. Suhu 28-30°C ini telah ditemukan sebagai suhu optimal untuk kura-kura oleh penulis. Suhu diatas 32°C dan dibawah 26°C tidak dianjurkan karena suhu tubuh kura-kura ini tergantung oleh suhu air di sekitarnya. Di alamnya, kura-kura moncong babi dapat mengatur suhu tubuhnya dengan berenang lebih dalam atau di bawah batang pohon berenang dan memasuki air yang lebih dingin atau hanya berada di permukaan air atau berenang mendekati tepian dan memasuki air yang lebih hangat. Ini adalah termoregulasi alamiah yang tidak ada di pemeliharaan dalam rumah (indoor captivity) karena suhu yang selalu sama di lingkungannya. Pada satu waktu, kura-kura moncong diamati pada suhu air 22°C. Kura-kura moncong babi itu diam di dasar aquarium selama dua jam, kecuali pada saat berenang ke permukaaan untuk mengambil udara. Pada saat suhu air dinaikan sampai 28°C, kura-kura menjadi aktif.

          Kura-kura moncong babi adalah kura-kura yang hidup di air keras(hard water) seperti ikan yang hidup di danau Afrika seperti danau Malawi. Kondisi alami dari tempat asalnya adalah sungai besar yang mengandung kapur (limestone). Ini berarti airnya memiliki kadar karbonat yang tinggi dan juga memiliki pH tinggi dan sangat setabil di antara 8.0 sampai 8.3. KH dan GH airnya antara 18 sampai 25 dH. Faktor lainnya yang perlu diperhitungkan adalah bahwa kura-kura moncong babi tidak memilik tempurung yang berskat-skat, seperti tempurung lunak (soft shell) lainnya spt Apalone spinifera dan menderita dari predilection jamau dan infeksi bakteria yang parahnya dapat menjadi penyakit SCUD (Systemic Cutaneous Ulcerative Disease). Pada beberapa jamur agen termasuk organisma yang hidup di air netral (pH 6.5-7.5) dan mati pada pH yang tinggi. Maka dari itu pH yang tinggi memperbaiki kondisi kulit kura-kura. Kura-kura dengan iritasi kulit di karapasnya akan mengosok hilang kulitnya. Kura-kura air tawar bereaksi secara osmotik dengan air di lingkungannya dan pada saat airnya mengandung kadar garam yang tinggi ini juga dapat mengurangi beban kerja sistem renal (ginjal).

         Salah satu cara kami belajar bagaimana cara memelihara kura-kura ini adalah dengan melihat lingkungan alami mereka dan mencari apa yang mereka perlukan bedasarkan pada sesuatu yang membatasi penyebaraan mereka di alamnya. Sangat menarik bahwa kura-kura ini hanya ditemui di sungai sungai berkapur (limestone). Juga hanya ditemui di sungaisungai yang pH nya tinggi, konduktifiti yang tinggi dan alkalis yang tinggi. Ini berarti sangat stabil, sangat jernih airnya.

          Waktu kami di sungai Daly dengan kura-kura ini, penglihatan mencapai sampai lima meter. Maka dari itu waktu membuat lingkungan untuk kura-kura ini dan dalam jumlah yang banyak karena ekperimen ini, makin jelas bahwa kami perlu menduplikasi/mencontoh lingkungannya.
Kura-kura moncong babi adalah hewan omnivora, tetapi lebih condong ke herbivora daripada omnivora. Di Australia, kura-kura ini makan daun-daunan, buah dan bunga dari tumbuhan riparian khususnya fig ficus racemosa, apel syzygium forte dan pandanus aquaticus. Makanan lainnya termasuk serangga air, krustasea, moluska, ikan dan mamalia yang dimakan sebagai carrion dan tanaman air seperti lumut, vallisneria sp dan najar tenuifolia. Banyaknya macam yang dimakan memberi lingkup yang luas bagi oportunism dan makanan bervariasi sekali dengan makanan yang tersedia dari satu daerah ke daerah lainnya.

           Kura-kura yang diteliti oleh penulis senior diberi makan berbagai macam termasuk daun dandelion, apel, pir, pisang, anggur, tomat, selada, putih telur, cacing tanah dan daging putih ayam cincang. Rasio makanan tanaman-hewan adalah 3 : 2. Memberi makanan yang kaya adalah salah satu kunci bagaimana menjaga kura-kura sehat. Semua kura-kura terbukti omnivora, sangat rakus. Cara pemberi makan termasuk menyetuh makanan dengan probosics seperti mereka menciumnya, mengambil makanan dengan rahangnya dan menelannya. Cakar di fliper depannya kadang dipakai untuk merobek makanan yang besar menjadi kecil.

          Di alam, umur kawin kura-kura moncong babi jantan adalah setelah 14 sampai 16 tahun dengan ukuran karapas sekitar 30 cm. Betina mencapai umur kawin agak tua, setelah 20 sampai 22 tahun dengan ukuran karapas 30-34 cm.

          Berdasarkan laparoscopy dan pemeliharaan kura-kura dari menetas sepertinya memakan waktu sampai 25 tahun untuk kura-kura ini mencapai umur dewasa.

          Di kaptifiti(kandang), umur kawin dapat dicapai lebih awal. Hanya memerlukan 10 tahun untuk kura-kura moncong babi jantan mencapai umur kawinnya. Kura-kura yang ada di dalam pengamatan kami, ada dua kura-kura jantan yang berusaha kawin di umur tiga tahun dengan panjang karapas 14 sampai 15 cm.

          Bukti ternak dalam kaptiviti sangat terbatas pada dua tempat. Salah satunya terjadi di Bronx Zoo, New York USA dan satu lagi di Zoological Garden Wilhelma di Stuttgart, Jerman. Tidak ada rekord yang tersedia. Di kebun binatang Bronx Zoo pembiakan terjadi pameran Jungle World tetapi kura-kura berkembang biak tanpa intervensi dari penjaga. Pada kejadian yang lalu, mereka menangkap kura-kura dan menggunakan Oxytocin untuk mengambil telur tapi tidak berhasil.

          Pada kejadian ini inkubasi dilaksanakan dengan anakan yang diambil dari tempat pameran. Tahun berikutnya, kura-kura dibiarkan bertelur tetapi telurnya diambil dan diinkubasi dengan dua anakan dan pada Septembar 2003, satu anakan direkord dari satu pameran.

          Di tahun 1997, Roemp memberi sepasang kura-kura moncong babi ke Wilhelma zoological garden dengan dasar budidaya. Selain dari dua kura-kura ini, Wihelma telah memiliki tujuh grup kura-kura dewasa sendiri. Ternak captive ini terjadi di tahun 2002, tetapi secara tidak terduga. Telur-telur ditemukan dalam air di lingkungan dan satu menetas setelah diinkubasi, telur lainnya dimakan oleh kura-kura atau ikan besar yang ada di lingkungannya.

          Musim panas tahun 2004, Wilhelma zoological garden menemukan telur lainnya. Telur-telurnya diinkubasi secara artifisial, tetapi dua bulan berlalu setelah tanggal tetasnya, telurnya dibuka dan anakan ditemukan tidak bernyawa. Kurakuranya telah terbentuk.

          Karena tampangnya yang aneh dan meningkatnya persediaan, kura-kura moncong babi menjadi kura-kura yang umum dapat dibeli di toko-toko. Karena hobbyist yang membeli kura-kura ini, kurang memiliki pengetahuan dasar tentang bagaimana memelihara kura-kura ini, banyak kura-kura yang mati dalam beberapa bulan atau dapat dalam beberapa minggu. Sebaliknya jika dasar pemeliharaan telah dipenuhi, kura-kura moncong babi sepertinya kura air keras dan dapat hidup selamat. Bersih, alkalis – pH antara 8 sampai 8.3 dan suhu air hangat antara 28-30°C bersamaan dengan aquarium yang besar, luas dan makanan yang seimbang adalah faktor-faktor utama menyediakan dasar untuk pemeliharaan kura-kura yang berhasil. Kedapatan kura-kura yang rendah dalam satu aquarium dengan tempat persembunyian diperlukan supaya mencegah agresi antar kura-kura. Sebagai hewan omnivora, kura-kura moncong babi membutuhkan makanan yang seimbang yang mengandung tumbuhan dan hewani. Orang tidak dapat mengharapkan ternak berhasil dengan kura-kura ini jika tidak memiliki tempat yang luas dan sarang ada seperti yang ada di lingkungan alaminya. Tempat ini umumnya dapat disediakna oleh Zoological gardens atau institusi lainnya. Dengan pengetahuan yang benar, inkubasi telur dan penetasan dapat dilakukan secara buatan. Di tahun 2004, kura-kura moncong babi termasuk dalam apendiks II di CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).

Sumber foto: http://calphotos.berkeley.edu/imgs/512x768/0000_0000/1007/0792.jpeg
Sumber info: http://ikhwah889.blogspot.com/2008/10/memelihara-kura-kura-moncong-babi.html
Moncong babi adalah kura-kura yang sangat aneh. Tampangnya yang morfologikal, pengetahuan yang terbatas dan grup kebetulan semua menyebabkan penaruhan filogenetika yang tidak benar dan juga mengenai sejarah alam yang tidak pasti. Data fosil untuk genus kura-kura ini kembali ke Miocene di Papua New Guinea. Ramsay pertama kali menerangkan jenis ini dari material yang dikumpulkan pada tahun 1885 dari ekspedisi Royal Geographic Society, lokasi di sungai Strickland. Pertama kali dideskripsikan sebagai Pleurodire dan diajukan sebagai hubungan kura-kura air tawar dan kura-kura air laut. Genus ini lalu ditetapkan ke keluarga baru Carrettochelyidae dan Baur memindahkan ke Carretochelys dan keluarga Carretochelyidatenya ke Cryptodires dan memperlihatkan persamaannya ke Trionychia.

Tulisan yang mendalam yang pertama kali dicetak tentang kebutuhan pemeliharaan atau prilaku di captivity moncong babi adalah tulisan yang ditulis oleh Dorrian. Tulisan lainnya seperti Konservasi Biologi kura-kura moncong babi oleh Georges dan Rode atau Moncong babi oleh Bargeron membahas sedikit tentang pemeliharaan, meninggalkan beberapa informasi yang berguna.

Di seluruh dunia ini ada beberapa kebun binatang dan individu yang memelihara kura-kura ini. Kebun binatang ini adalah Bronx Zoo di New York USA, Pittburgh Zoo di New Jersey USA Zoological Garden Wilhelma di Stuttgart, Germany, Territory Wildlife Park di Berry Springs, Australia, Taronga Park Zoo di Sydney, Australia, Hartley Creek Crocodile Farm di Cairns, Australia, Australia Zoo di Beewah, Australia dan the University of Canberra di Australia.
Pengarang junior dan senior telah memelihara kura-kura ini selama beberapa tahun dan telah melakukan banyak pengamatan dan dirangkum pada tulisan ini.

Karena kura-kura moncong babi adalah perenang yang baik, aquarium yang luas menjadi suatu keharusan. Alasan lainnya untuk menggunakan aquarium besar adalah karena kura-kura ini dapat tumbuh sampai 22,5 kg dan panjang 56.3 cm. Ukuran aquarium harus memberi kura-kura bergerak bebas dan juga dapat bersembunyi jika diperlukan. Waktu kura-kura ini ketakutan, mereka kabur seperti roket. Kura-kura muda diamati dapat melompat dari aquarium yang satu ke aquarium lainnya yang bersebelahan yang permukaannya hanya 2 cm dari ujung aquarium. Tambah besar aquarium, lebih kecil kesempatan untuk kura-kura terluka.

Karena kura-kura moncong babi dapat menjadi agresif kepada yang lainnya, aquarium besar juga dapat membantu menurunkan kepadatan. Prilaku agresif akan jelas terlihat. Prilaku agresif ini sudah dapat terlihat pada kura-kura yang hanya berumur enam bulan, tetapi dapat pula prilaku ini muncul pada umur yang lebih muda. Sebaliknya, Roempp mengatakan bawah setelah memiliki lima tahun kura-kura ini mulai memperlihatkan prilaku yang agresif satu sama lainnya. Prilaku agresif diperlihatkan dengan menggigit dan daerah yang sering digigit adalah ujung poseterior pada karapas, peripherals keenam sampai kesepuluh dan pygal, bagian dorsal leher dan lekukan kulit yang memanjang lateral pada setiap sisi dari dibawah permukaan ekor ke daerah paha dan turun ke lengan belakang. Karena rahangnya yang baik, gigitannya cukup menyakitkan dan dapat berdarah.

Pasir kali yang telah dicuci bersih dapat dipakai sebagai lapisan dasar aquarium. Jika lapisan cukup tebal, dapat menyediakan sebagai tempat persembunyian atau peristirahatan untuk kura-kura moncong babi karena mereka mebenamkan/mengubur mereka sendiri. Di beberapa occasions, mereka diamati melakukan ini sampai unjung probosics. Jika kepadatan jumlah kura-kura sangat tinggi maka pemakaian lapisan pasir yang tebal, dengan kayu/dahan/akar air dianjurkan untuk memberi tempat persembunyiaan dan mencegah kura-kura mengigit satu sama lain.

Kelihatannya kura-kura moncong babi dapat berprilaku sangat berbeda pada toleransi dengan jenis testudines lainnya.

Menurut Dorrian, kura-kura moncong babi tidak memperlihatkan sifat agresif mereka terhadap kura-kura dari Chelidae (Macrochelodina expansa, Macrochelodina rugosa, Chelodina longicollis, Emydura macquarii krefftii and Elseya latisternum).

Sebaliknya, menurut Roempp ada beberapa masalah yang ditimbulkan dalam memelihara kura-kura moncong babi bersama kura-kura jenis lainnya. Saya mempunyai masalah dengan Macrchelodina rugosa betina. Kura-kura betina ini mendapat beberapa gigitan yang parah di lengan belakangnya oleh kura-kura moncong babi betina saya.; Kejadian yang sama terjadi terhadap Macrochelodina expansa. Sebaliknya kura-kura moncong babi jantan tidak pernah agresif terhadap jenis lainnya.Saya tidak tahu jika sifat agresif tergantung pada jenis kelamin. Penulis senior memelihara empat moncong babi dengan Emydura subglobosa muda dan dewasa, jenis sympatric dan tidak ada tanda-tanda agresif terhadap jenis ini.

Untuk masalah suhu air ada beberapa macam pendapat. Dorrian menganjurkan airnya dihangatkan secara konstan pada suhu 26-27°C sedangkan Bargeron menyatakan suhu air harus antara 26.1°C dan 30°C. Georges dan Rose menganjurkan suhu air antara 28-30°C. Suhu 28-30°C ini telah ditemukan sebagai suhu optimal untuk kura-kura oleh penulis. Suhu diatas 32°C dan dibawah 26°C tidak dianjurkan karena suhu tubuh kura-kura ini tergantung oleh suhu air di sekitarnya. Di alamnya, kura-kura moncong babi dapat mengatur suhu tubuhnya dengan berenang lebih dalam atau di bawah batang pohon berenang dan memasuki air yang lebih dingin atau hanya berada di permukaan air atau berenang mendekati tepian dan memasuki air yang lebih hangat. Ini adalah termoregulasi alamiah yang tidak ada di pemeliharaan dalam rumah (indoor captivity) karena suhu yang selalu sama di lingkungannya. Pada satu waktu, kura-kura moncong diamati pada suhu air 22°C. Kura-kura moncong babi itu diam di dasar aquarium selama dua jam, kecuali pada saat berenang ke permukaaan untuk mengambil udara. Pada saat suhu air dinaikan sampai 28°C, kura-kura menjadi aktif.

Kura-kura moncong babi adalah kura-kura yang hidup di air keras(hard water) seperti ikan yang hidup di danau Afrika seperti danau Malawi. Kondisi alami dari tempat asalnya adalah sungai besar yang mengandung kapur (limestone). Ini berarti airnya memiliki kadar karbonat yang tinggi dan juga memiliki pH tinggi dan sangat setabil di antara 8.0 sampai 8.3. KH dan GH airnya antara 18 sampai 25 dH. Faktor lainnya yang perlu diperhitungkan adalah bahwa kura-kura moncong babi tidak memilik tempurung yang berskat-skat, seperti tempurung lunak (soft shell) lainnya spt Apalone spinifera dan menderita dari predilection jamau dan infeksi bakteria yang parahnya dapat menjadi penyakit SCUD (Systemic Cutaneous Ulcerative Disease). Pada beberapa jamur agen termasuk organisma yang hidup di air netral (pH 6.5-7.5) dan mati pada pH yang tinggi. Maka dari itu pH yang tinggi memperbaiki kondisi kulit kura-kura. Kura-kura dengan iritasi kulit di karapasnya akan mengosok hilang kulitnya. Kura-kura air tawar bereaksi secara osmotik dengan air di lingkungannya dan pada saat airnya mengandung kadar garam yang tinggi ini juga dapat mengurangi beban kerja sistem renal (ginjal).

Salah satu cara kami belajar bagaimana cara memelihara kura-kura ini adalah dengan melihat lingkungan alami mereka dan mencari apa yang mereka perlukan bedasarkan pada sesuatu yang membatasi penyebaraan mereka di alamnya. Sangat menarik bahwa kura-kura ini hanya ditemui di sungai sungai berkapur (limestone). Juga hanya ditemui di sungaisungai yang pH nya tinggi, konduktifiti yang tinggi dan alkalis yang tinggi. Ini berarti sangat stabil, sangat jernih airnya.

Waktu kami di sungai Daly dengan kura-kura ini, penglihatan mencapai sampai lima meter. Maka dari itu waktu membuat lingkungan untuk kura-kura ini dan dalam jumlah yang banyak karena ekperimen ini, makin jelas bahwa kami perlu menduplikasi/mencontoh lingkungannya.
Kura-kura moncong babi adalah hewan omnivora, tetapi lebih condong ke herbivora daripada omnivora. Di Australia, kura-kura ini makan daun-daunan, buah dan bunga dari tumbuhan riparian khususnya fig ficus racemosa, apel syzygium forte dan pandanus aquaticus. Makanan lainnya termasuk serangga air, krustasea, moluska, ikan dan mamalia yang dimakan sebagai carrion dan tanaman air seperti lumut, vallisneria sp dan najar tenuifolia. Banyaknya macam yang dimakan memberi lingkup yang luas bagi oportunism dan makanan bervariasi sekali dengan makanan yang tersedia dari satu daerah ke daerah lainnya.

Kura-kura yang diteliti oleh penulis senior diberi makan berbagai macam termasuk daun dandelion, apel, pir, pisang, anggur, tomat, selada, putih telur, cacing tanah dan daging putih ayam cincang. Rasio makanan tanaman-hewan adalah 3 : 2. Memberi makanan yang kaya adalah salah satu kunci bagaimana menjaga kura-kura sehat. Semua kura-kura terbukti omnivora, sangat rakus. Cara pemberi makan termasuk menyetuh makanan dengan probosics seperti mereka menciumnya, mengambil makanan dengan rahangnya dan menelannya. Cakar di fliper depannya kadang dipakai untuk merobek makanan yang besar menjadi kecil.

Di alam, umur kawin kura-kura moncong babi jantan adalah setelah 14 sampai 16 tahun dengan ukuran karapas sekitar 30 cm. Betina mencapai umur kawin agak tua, setelah 20 sampai 22 tahun dengan ukuran karapas 30-34 cm.

Berdasarkan laparoscopy dan pemeliharaan kura-kura dari menetas sepertinya memakan waktu sampai 25 tahun untuk kura-kura ini mencapai umur dewasa.

Di kaptifiti(kandang), umur kawin dapat dicapai lebih awal. Hanya memerlukan 10 tahun untuk kura-kura moncong babi jantan mencapai umur kawinnya. Kura-kura yang ada di dalam pengamatan kami, ada dua kura-kura jantan yang berusaha kawin di umur tiga tahun dengan panjang karapas 14 sampai 15 cm.

Bukti ternak dalam kaptiviti sangat terbatas pada dua tempat. Salah satunya terjadi di Bronx Zoo, New York USA dan satu lagi di Zoological Garden Wilhelma di Stuttgart, Jerman. Tidak ada rekord yang tersedia. Di kebun binatang Bronx Zoo pembiakan terjadi pameran Jungle World tetapi kura-kura berkembang biak tanpa intervensi dari penjaga. Pada kejadian yang lalu, mereka menangkap kura-kura dan menggunakan Oxytocin untuk mengambil telur tapi tidak berhasil.

Pada kejadian ini inkubasi dilaksanakan dengan anakan yang diambil dari tempat pameran. Tahun berikutnya, kura-kura dibiarkan bertelur tetapi telurnya diambil dan diinkubasi dengan dua anakan dan pada Septembar 2003, satu anakan direkord dari satu pameran.

Di tahun 1997, Roemp memberi sepasang kura-kura moncong babi ke Wilhelma zoological garden dengan dasar budidaya. Selain dari dua kura-kura ini, Wihelma telah memiliki tujuh grup kura-kura dewasa sendiri. Ternak captive ini terjadi di tahun 2002, tetapi secara tidak terduga. Telur-telur ditemukan dalam air di lingkungan dan satu menetas setelah diinkubasi, telur lainnya dimakan oleh kura-kura atau ikan besar yang ada di lingkungannya.

Musim panas tahun 2004, Wilhelma zoological garden menemukan telur lainnya. Telur-telurnya diinkubasi secara artifisial, tetapi dua bulan berlalu setelah tanggal tetasnya, telurnya dibuka dan anakan ditemukan tidak bernyawa. Kurakuranya telah terbentuk.

Karena tampangnya yang aneh dan meningkatnya persediaan, kura-kura moncong babi menjadi kura-kura yang umum dapat dibeli di toko-toko. Karena hobbyist yang membeli kura-kura ini, kurang memiliki pengetahuan dasar tentang bagaimana memelihara kura-kura ini, banyak kura-kura yang mati dalam beberapa bulan atau dapat dalam beberapa minggu. Sebaliknya jika dasar pemeliharaan telah dipenuhi, kura-kura moncong babi sepertinya kura air keras dan dapat hidup selamat. Bersih, alkalis – pH antara 8 sampai 8.3 dan suhu air hangat antara 28-30°C bersamaan dengan aquarium yang besar, luas dan makanan yang seimbang adalah faktor-faktor utama menyediakan dasar untuk pemeliharaan kura-kura yang berhasil. Kedapatan kura-kura yang rendah dalam satu aquarium dengan tempat persembunyian diperlukan supaya mencegah agresi antar kura-kura. Sebagai hewan omnivora, kura-kura moncong babi membutuhkan makanan yang seimbang yang mengandung tumbuhan dan hewani. Orang tidak dapat mengharapkan ternak berhasil dengan kura-kura ini jika tidak memiliki tempat yang luas dan sarang ada seperti yang ada di lingkungan alaminya. Tempat ini umumnya dapat disediakna oleh Zoological gardens atau institusi lainnya. Dengan pengetahuan yang benar, inkubasi telur dan penetasan dapat dilakukan secara buatan. Di tahun 2004, kura-kura moncong babi termasuk dalam apendiks II di CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).


Saturday, May 25, 2013

ALDABRA "GIANT" TORTOISE (GEOCHELONE GIGANTEA)


ALDABRA "GIANT" TORTOISE (GEOCHELONE GIGANTEA)

Kura-kura Aldabra adalah salah satu kura-kura terbesar di dunia. Kura-kura ini hidup di kepulaua Aldabra. Kura-kura ini dapat tumbuh hingga lebih dari 1.5 meter dan dapat berumur hingga mencapai 200-an tahun. berikut klasifikasinya:

Kingdom : Animalia
Pilum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudines
Subordo : Cryptodira
Superfamili : Testudinoidea
Famili : Testudinidae
Genus : Geochelone
Spesies : Geochelone gigantea

ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura aldabra mempunya warna karapas berwarna coklat kehitam-hitaman dengan dome yang tinggi. Memiliki kaki yang besar dan kekar untuk menopang tubuhnya yang sangat berat. Kura-kura ini mempunyai leher yang sangat panjang digunakan untuk meraih cabang dan ranting pohon sampai ketinggian 1 meter lebih dari tanah.
Kura-kura ini mempunyai ukuran yang mirip dengan kura-kura galapagos. Kura-kura ini dapat mencapai ukuran karapas hingga 1.5 meter dengan berat hingga 300 kg. Ukuran jantan jauh lebih besar daripada betina.

PERSEBARAN
Populasi utama dari kura-kura ini ada di pulau Atol Aldabra. Ditempat tersebut dilindungi dari pengaruh manusia dan merupakan rumah bagi sekitar 100 ribu kura-kura raksasa tersebut. Populasi lain terisolasi di pulau Changuu, dekat Zanzibar dan populasi lain yang ada di taman konservasi di Mauritius dan Rodrigues. Kura-kura ini pada habitat aslinya menempati sejumlah kawasan padang rumput, semak belukar yang rendah, hutan bakau, dan bukit pasir pantai.

KEBIASAAN MAKAN
Kura-kura ini termasuk herbivora yang makanannya antara lain rumput, daun, dan batang kayu tanaman, namun sesekali memakan invertebrata kecil dan bangkai, bahkan memakan tubuh kura-kura yang mati lainnya. Dalam penangkaran, kura-kura Aldabra raksasa dikenal untuk menikmati buah-buahan seperti apel dan pisang serta sayuran pelet terkompresi.
Untuk memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh sebagian besar didapatkan dari kandungan air yang ada dalam makanannya.
Ada dua spesimen yang berbeda dari kura-kura aldabra yaitu: kura-kura yang hidup didataran rendah memiliki kubah tempurung yang tinggi, sedangkan kura-kura yang hidup di dataran tinggi mempunyai kubah tempurung yang lebih rendah.

PERKEMBANGBIAKAN
Kura-kura aldabra berkembang biak pada bulan Februari sampai Mei yang dapat menghasilkan sekitar 9 sampai 25 telor. Telur tersebut ditimbun pada kedalaman yang dangkal pada tanah yang kering. Biasanya kurang dari setengah dari telur mereka yang menetas. Setelah inkubasi selama sekitar 8 bulan telur tersebut kemudian menetas antara bulan Oktober sampai Desember. 

Sumber foto: http://i48.tinypic.com/ipqz61.jpg
Sumber info: http://jinkuraku.blogspot.com/2012/11/aldabra-giant-tortoise-geochelone.html
Kura-kura Aldabra adalah salah satu kura-kura terbesar di dunia. Kura-kura ini hidup di kepulaua Aldabra. Kura-kura ini dapat tumbuh hingga lebih dari 1.5 meter dan dapat berumur hingga mencapai 200-an tahun. berikut klasifikasinya:

Kingdom : Animalia
Pilum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Testudines
Subordo : Cryptodira
Superfamili : Testudinoidea
Famili : Testudinidae
Genus : Geochelone
Spesies : Geochelone gigantea

ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura aldabra mempunya warna karapas berwarna coklat kehitam-hitaman dengan dome yang tinggi. Memiliki kaki yang besar dan kekar untuk menopang tubuhnya yang sangat berat. Kura-kura ini mempunyai leher yang sangat panjang digunakan untuk meraih cabang dan ranting pohon sampai ketinggian 1 meter lebih dari tanah.
Kura-kura ini mempunyai ukuran yang mirip dengan kura-kura galapagos. Kura-kura ini dapat mencapai ukuran karapas hingga 1.5 meter dengan berat hingga 300 kg. Ukuran jantan jauh lebih besar daripada betina.

PERSEBARAN
Populasi utama dari kura-kura ini ada di pulau Atol Aldabra. Ditempat tersebut dilindungi dari pengaruh manusia dan merupakan rumah bagi sekitar 100 ribu kura-kura raksasa tersebut. Populasi lain terisolasi di pulau Changuu, dekat Zanzibar dan populasi lain yang ada di taman konservasi di Mauritius dan Rodrigues. Kura-kura ini pada habitat aslinya menempati sejumlah kawasan padang rumput, semak belukar yang rendah, hutan bakau, dan bukit pasir pantai.

KEBIASAAN MAKAN
Kura-kura ini termasuk herbivora yang makanannya antara lain rumput, daun, dan batang kayu tanaman, namun sesekali memakan invertebrata kecil dan bangkai, bahkan memakan tubuh kura-kura yang mati lainnya. Dalam penangkaran, kura-kura Aldabra raksasa dikenal untuk menikmati buah-buahan seperti apel dan pisang serta sayuran pelet terkompresi.
Untuk memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh sebagian besar didapatkan dari kandungan air yang ada dalam makanannya.
Ada dua spesimen yang berbeda dari kura-kura aldabra yaitu: kura-kura yang hidup didataran rendah memiliki kubah tempurung yang tinggi, sedangkan kura-kura yang hidup di dataran tinggi mempunyai kubah tempurung yang lebih rendah.

PERKEMBANGBIAKAN
Kura-kura aldabra berkembang biak pada bulan Februari sampai Mei yang dapat menghasilkan sekitar 9 sampai 25 telor. Telur tersebut ditimbun pada kedalaman yang dangkal pada tanah yang kering. Biasanya kurang dari setengah dari telur mereka yang menetas. Setelah inkubasi selama sekitar 8 bulan telur tersebut kemudian menetas antara bulan Oktober sampai Desember. 


RADIATA TORTOISE (ASTROCHELYS RADIATA)


RADIATA TORTOISE (ASTROCHELYS RADIATA)

Kura-kura Radiata merupakan sebuah spesies dari family Testudinidae. Kura-kura ini dapat ditemukan di selatan pulau Madagaskar. Di alam liar radiata merupakan kura-kura pemakan tumbuh-tumbuhan atau herbivora 80-90% makanannya merupakan rumput dan sisanya adalah buah-buahan dan kaktus. Makanan favorit dari kura-kura ini adalah kaktus opuntia. Kura-kura ini hidup pada suhu sekitar 29 sampai 33o C. Kura-kura radiata ini dapat hidup hingga 188 tahun.

Klasifikasi kura-kura radiata sebagai berikut:
Kingdom:  Animalia
Pilum:  Chordata
Klas:  Sauropsida
Ordo:  Testudines
Subordo:  Cryptodira
Famili:  Testudinidae
Genus:  Astrochelys
Species:  Astrochelys radiata


ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura ini dapat tumbuh hingga 16 inci atau sekitar 41 cm (karapas) dan dengan berat mencapai 35 pon atau sekitar 16 kg. Kura-kura Radiata termasuk salah satu kura-kura paling indah di dunia. Bentuk dasar dari kura-kura ini mempunyai karapas yang tinggi, kepala tumpul dan kaki mirip gajah. Kaki dan kepala berwarna kuning kecuali corak hitam yang berukuran variatif di atas kepala.

Kerapas kura-kura mempunyai paduan warna kuning dan hitam. Warna kuning pada kerapas memancar dari pusat masing-masing cangkang yang membentuk pola bintang tetapi mempunya pola yang lebih halus dan rumit jika dibandingkan dengan pola pada indian star. Pola pancaran pada kura-kura radiata lebih elegan dan mempunyai karapas yang lebih halus. kura-kura ini mempunyai sedikit dimorfisme seksual. Dimana kura-kura jantan mempunyai ekor yang lebih panjang.

DAERAH PERSEBARAN
Persebaran alami dari kura-kura ini hanya di bagian selatan dan barat daya dari pulau Madagaskar. Mereka lebih memilih daerah yang kering, padang kaktus dan hutan bagian selatan Madagaskar.

PERKEMBANGBIAKAN
Jantan siap kawin kurang lebih ukuran 12 inci atau sekitar 31 cm sedangkan betina mempunyai ukuran yang sedikit lebih besar. Ciri-ciri jantan yang siap kawin biasanya dengan mengangguk-angukan kepala dan mengendus kaki belakang dan kloaka betina. Dalam beberapa kasus jantan mengangkat betina dengan cangkang depannya untuk menghindari betina menjauhinya.

Betina dapat menghasilkan 3 sampai 12 telur yang dipendam dalam tanah dengan kedalaman sekitar 15 sampai 20 cm. Masa inkubasi cukup sekitar 5 sampai 8 bulan. Kura-kura yang baru menetas berukuran 3 sampai 4 cm.

PERAWATAN
Kura-kura ini mempunyai sifat yang unik, jadi untuk perawatannya gampang-gampang susah. Berikut ini cara merawat radiata menurut pengalaman saya dan dari beberapa referensi.
1. substrat sebisa mungkin menggunakan tanah yang kering. Karena pada dasarnya hewan ini senang dengan tempat-tempat yang kering. Selain itu radiata juga membutuhkan kandungan mineral yang didapatkan dengan memakan tanah.
2. sebaiknya pada pagi sampai sore kura-kura dilepas dan dijemur ditempat yang aman dan jangan lupa diberi tempat untuk berteduh. Dan untuk sore sampai pagi sebaiknya di masukkan dikandang/akuarium dan diberi lampu untuk menghangatkan kura-kura.
3. makanan yang diberikan diusahakan bervariasi. Sayuran yang dapat diberikan misalnya: sawi, wortel, sawi daging, bunga sepatu, kaktus opuntia, dll. Sedangkan buah-buahan yang dapat diberikan misalnya: mangga, strowberry, pepaya, melon, alpukat, dll. Selain itu dapat juga diberi pelet khusus tortoise sebagai selingan. Untuk pemberian makan dan minum dapat dilakukan pada pagi dan sore hari.
4.  sehabis dijemur sebaiknya kura-kura di bersihkan dengan air bersih sebelum dimasukkan kedalam kandang.
5. kandang sebaiknya dibersihkan minimal 2 hari sekali.

Sumber foto: http://turtleconservancy.org/species/radiata/radiata_files/radiata.jpg
Sumber info: http://jinkuraku.blogspot.com/2012/11/radiata-tortoise-astrochelys-radiata.html
Kura-kura Radiata merupakan sebuah spesies dari family Testudinidae. Kura-kura ini dapat ditemukan di selatan pulau Madagaskar. Di alam liar radiata merupakan kura-kura pemakan tumbuh-tumbuhan atau herbivora 80-90% makanannya merupakan rumput dan sisanya adalah buah-buahan dan kaktus. Makanan favorit dari kura-kura ini adalah kaktus opuntia. Kura-kura ini hidup pada suhu sekitar 29 sampai 33o C. Kura-kura radiata ini dapat hidup hingga 188 tahun.

Klasifikasi kura-kura radiata sebagai berikut:
Kingdom: Animalia
Pilum: Chordata
Klas: Sauropsida
Ordo: Testudines
Subordo: Cryptodira
Famili: Testudinidae
Genus: Astrochelys
Species: Astrochelys radiata


ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura ini dapat tumbuh hingga 16 inci atau sekitar 41 cm (karapas) dan dengan berat mencapai 35 pon atau sekitar 16 kg. Kura-kura Radiata termasuk salah satu kura-kura paling indah di dunia. Bentuk dasar dari kura-kura ini mempunyai karapas yang tinggi, kepala tumpul dan kaki mirip gajah. Kaki dan kepala berwarna kuning kecuali corak hitam yang berukuran variatif di atas kepala.

Kerapas kura-kura mempunyai paduan warna kuning dan hitam. Warna kuning pada kerapas memancar dari pusat masing-masing cangkang yang membentuk pola bintang tetapi mempunya pola yang lebih halus dan rumit jika dibandingkan dengan pola pada indian star. Pola pancaran pada kura-kura radiata lebih elegan dan mempunyai karapas yang lebih halus. kura-kura ini mempunyai sedikit dimorfisme seksual. Dimana kura-kura jantan mempunyai ekor yang lebih panjang.

DAERAH PERSEBARAN
Persebaran alami dari kura-kura ini hanya di bagian selatan dan barat daya dari pulau Madagaskar. Mereka lebih memilih daerah yang kering, padang kaktus dan hutan bagian selatan Madagaskar.

PERKEMBANGBIAKAN
Jantan siap kawin kurang lebih ukuran 12 inci atau sekitar 31 cm sedangkan betina mempunyai ukuran yang sedikit lebih besar. Ciri-ciri jantan yang siap kawin biasanya dengan mengangguk-angukan kepala dan mengendus kaki belakang dan kloaka betina. Dalam beberapa kasus jantan mengangkat betina dengan cangkang depannya untuk menghindari betina menjauhinya.

Betina dapat menghasilkan 3 sampai 12 telur yang dipendam dalam tanah dengan kedalaman sekitar 15 sampai 20 cm. Masa inkubasi cukup sekitar 5 sampai 8 bulan. Kura-kura yang baru menetas berukuran 3 sampai 4 cm.

PERAWATAN
Kura-kura ini mempunyai sifat yang unik, jadi untuk perawatannya gampang-gampang susah. Berikut ini cara merawat radiata menurut pengalaman saya dan dari beberapa referensi.
1. substrat sebisa mungkin menggunakan tanah yang kering. Karena pada dasarnya hewan ini senang dengan tempat-tempat yang kering. Selain itu radiata juga membutuhkan kandungan mineral yang didapatkan dengan memakan tanah.
2. sebaiknya pada pagi sampai sore kura-kura dilepas dan dijemur ditempat yang aman dan jangan lupa diberi tempat untuk berteduh. Dan untuk sore sampai pagi sebaiknya di masukkan dikandang/akuarium dan diberi lampu untuk menghangatkan kura-kura.
3. makanan yang diberikan diusahakan bervariasi. Sayuran yang dapat diberikan misalnya: sawi, wortel, sawi daging, bunga sepatu, kaktus opuntia, dll. Sedangkan buah-buahan yang dapat diberikan misalnya: mangga, strowberry, pepaya, melon, alpukat, dll. Selain itu dapat juga diberi pelet khusus tortoise sebagai selingan. Untuk pemberian makan dan minum dapat dilakukan pada pagi dan sore hari.
4. sehabis dijemur sebaiknya kura-kura di bersihkan dengan air bersih sebelum dimasukkan kedalam kandang.
5. kandang sebaiknya dibersihkan minimal 2 hari sekali.


ASIAN FOREST TORTOISE (MANOURIA EMYS)


ASIAN FOREST TORTOISE (MANOURIA EMYS)

Kura-kura emys (Manouria emys), biasa disebut kura-kura kaki gajah atau dalam bahasa daerah biasa disebut baning/baneng  juga dikenal sebagai kura-kura coklat Asia, adalah spesies kura-kura ditemukan di India (Assam), Bangladesh, Myanmar, Thailand, Malaysia dan Indonesia (Sumatera, Kalimantan).
Kura-kura emys merupakan kura-kura daratan terbesar di Asia, emys dapat tumbuh hingga mencapai panjang sekitar 80cm dengan berat sekitar 37 kilogram. Di Indonesia, kura kura Emys tersebar dari Sumatera hingga Kalimantan.

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Order : Testudines
Keluarga : Testudinidae
Genus : Manouria
Spesies : Manouria emys

TINGKAH LAKU
Di indonesia kura-kura baning/emys mempunyai habitat alami di hutan Sumatera dan Kalimantan pada daerah perbukitan yang memiliki suhu udara cenderung dingin.  hal ini menyebabkan emys sangat menyukai kelembaban.
Kebiasan hidup emys di alam liar biasanya menggunakan kaki belakangnya untuk menggali lubang atau bersembunyi dibawah lubang atau dedaunan untuk menghindari sinar matahari.
Apabila kita memelihara emys sangat disarankan untuk memberikan tempat berlindung dari sinar matahari . Karena sinar matahari langsung dapat menyebabkan dehidrasi dan akibat yang paling fatal adalah kematian.
Kura-kura darat terbesar Asia ini di alam liar juga aktif di sore hari hingga malam hari,  biasanya keluar untuk mencari makan.

DESKRIPSI 
Kura-kura darat terbesar Asia ini termasuk dalam genus Manouria, kura-kura hutan Asia (Manouria emys). Nama umum lainnya termasuk kura-kura coklat Asia, kura-kura gunung Burma dan kura-kura coklat Burma sedangkan dalam bahasa daerah biasa disebut Baning coklat (Kalimantan) atau Baneng (Aceh) . Dua subspesies saat ini diakui Manouria e. emys (Schlegel dan Muller, 1844) dan M. e. phayrei (Blyth, 1853). Emys yang tersebar di hutan sumatera dan kalimantan adalah jenis Manouria emys.

ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura ini mempunyai ciri-ciri fisik sebagai berikut:

- Mempunyai karapas umumnya berwarna terang ke warna coklat gelap.
- Scutes pektoral memperpanjang setengah halan ke garis tengah plastron.
- Agak cekung pada tepi scutes.
- Cangkang dapat mencapai panjang hingga 50 cm lebih. 

Kura-kura ini mempunyai dimorfisme seksual. Perbedaan kura-kura jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk fisiknya. Kura-kura emys jantan cenderung memiliki ekor yang lebih panjang dari emys betina. Pada kura-kura jantan ditemui juga kelung plastra yang berfungsi untuk mempermudah saat kawin.

MAKANAN
Di alam liar kura-kura ini memakan rumput dan buah-buahan yang jatuh ke tanah. Jadi pada saat kura-kura ini dipelihara kita dapat memberikan berbagai macam buah-buahan, misalnya: tomat, wortel, pepaya, pisang, dan timun. Selain buah-buahan sayuran yang dapat diberikan misalnya: sawi, kol, daun talas, dan daun tanaman air seperti daun teratai.

HABITAT DAN EKOLOGI
Kura-kura ini hidup di hutan hujan tropis pada daerah perbukitan dan pegunungan yang memiliki suhu rendah.

PERSEBARAN
Di Indonesia kura-kura ini tersebar di hutan Sumatera hingga hutan Kalimantan. Kura-kura kaki gajah ini juga tersebar di negara asia lainnya seperti India (Assam), Bangladesh, Myanmar, Thailand, dan juga Malaysia.

PERBEDAAN KURA-KURA JANTAN DAN BETINA

- Kura-kura jantan memiliki pastron yang cekung sedangkan pada betina datar (jadi bentuk plastron ini mempermudah jantan untuk menaiki betina dalam melakukan perkawinan). Perlu juga kita ketahui kura-kura ini ditutupi oleh cangkang keras yang berguna untuk berlindung. Bagian cangkang terdiri atas 2 jenis yaitu bagian atas yang disebut cangkang dan bagian bawah yang disebut plastron.
- Ekor kura-kura jantan lebih panjang dengan bagian pangkal yang besar, sedangkan ekor kura-kura betina cenderung pendek dengan pangkal yang kecil.
- Kura-kura jantan biasanya memiliki kuku yang panjang dibandingkan dengan kura-kura betina. Fungsinya dalam perkawinan kura-kura jantan akan mencengkeram cangkang betina menggunakan kuku-kukunya.
- Pada kura-kura dewasa bisa kita bedakan dengan menekan bagian plastron di bawah ekor dengan cara perlahan dan berulang ulang. Jika keluar hemipenis bisa dipastikan kura-kura tersebut berkelamin jantan.
- Pada umumnya kura-kura jantan akan mengikuti kemana betina berjalan pada musim kawin. Jadi bisa dipastikan bahwa kura-kura yang diikuti berjenis kelamin betina dan kura-kura yang mengikuti berjenis kelamin jantan.   

Sumber foto: http://www.reptilx.com/wp-content/uploads/2008/07/431056307kasOXn_ph.jpg
Sumber info: http://jinkuraku.blogspot.com/2012/11/asian-forest-tortoise-manouria-emys.html
Kura-kura emys (Manouria emys), biasa disebut kura-kura kaki gajah atau dalam bahasa daerah biasa disebut baning/baneng juga dikenal sebagai kura-kura coklat Asia, adalah spesies kura-kura ditemukan di India (Assam), Bangladesh, Myanmar, Thailand, Malaysia dan Indonesia (Sumatera, Kalimantan).
Kura-kura emys merupakan kura-kura daratan terbesar di Asia, emys dapat tumbuh hingga mencapai panjang sekitar 80cm dengan berat sekitar 37 kilogram. Di Indonesia, kura kura Emys tersebar dari Sumatera hingga Kalimantan.

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Order : Testudines
Keluarga : Testudinidae
Genus : Manouria
Spesies : Manouria emys

TINGKAH LAKU
Di indonesia kura-kura baning/emys mempunyai habitat alami di hutan Sumatera dan Kalimantan pada daerah perbukitan yang memiliki suhu udara cenderung dingin. hal ini menyebabkan emys sangat menyukai kelembaban.
Kebiasan hidup emys di alam liar biasanya menggunakan kaki belakangnya untuk menggali lubang atau bersembunyi dibawah lubang atau dedaunan untuk menghindari sinar matahari.
Apabila kita memelihara emys sangat disarankan untuk memberikan tempat berlindung dari sinar matahari . Karena sinar matahari langsung dapat menyebabkan dehidrasi dan akibat yang paling fatal adalah kematian.
Kura-kura darat terbesar Asia ini di alam liar juga aktif di sore hari hingga malam hari, biasanya keluar untuk mencari makan.

DESKRIPSI 
Kura-kura darat terbesar Asia ini termasuk dalam genus Manouria, kura-kura hutan Asia (Manouria emys). Nama umum lainnya termasuk kura-kura coklat Asia, kura-kura gunung Burma dan kura-kura coklat Burma sedangkan dalam bahasa daerah biasa disebut Baning coklat (Kalimantan) atau Baneng (Aceh) . Dua subspesies saat ini diakui Manouria e. emys (Schlegel dan Muller, 1844) dan M. e. phayrei (Blyth, 1853). Emys yang tersebar di hutan sumatera dan kalimantan adalah jenis Manouria emys.

ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura ini mempunyai ciri-ciri fisik sebagai berikut:

- Mempunyai karapas umumnya berwarna terang ke warna coklat gelap.
- Scutes pektoral memperpanjang setengah halan ke garis tengah plastron.
- Agak cekung pada tepi scutes.
- Cangkang dapat mencapai panjang hingga 50 cm lebih. 

Kura-kura ini mempunyai dimorfisme seksual. Perbedaan kura-kura jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk fisiknya. Kura-kura emys jantan cenderung memiliki ekor yang lebih panjang dari emys betina. Pada kura-kura jantan ditemui juga kelung plastra yang berfungsi untuk mempermudah saat kawin.

MAKANAN
Di alam liar kura-kura ini memakan rumput dan buah-buahan yang jatuh ke tanah. Jadi pada saat kura-kura ini dipelihara kita dapat memberikan berbagai macam buah-buahan, misalnya: tomat, wortel, pepaya, pisang, dan timun. Selain buah-buahan sayuran yang dapat diberikan misalnya: sawi, kol, daun talas, dan daun tanaman air seperti daun teratai.

HABITAT DAN EKOLOGI
Kura-kura ini hidup di hutan hujan tropis pada daerah perbukitan dan pegunungan yang memiliki suhu rendah.

PERSEBARAN
Di Indonesia kura-kura ini tersebar di hutan Sumatera hingga hutan Kalimantan. Kura-kura kaki gajah ini juga tersebar di negara asia lainnya seperti India (Assam), Bangladesh, Myanmar, Thailand, dan juga Malaysia.

PERBEDAAN KURA-KURA JANTAN DAN BETINA

- Kura-kura jantan memiliki pastron yang cekung sedangkan pada betina datar (jadi bentuk plastron ini mempermudah jantan untuk menaiki betina dalam melakukan perkawinan). Perlu juga kita ketahui kura-kura ini ditutupi oleh cangkang keras yang berguna untuk berlindung. Bagian cangkang terdiri atas 2 jenis yaitu bagian atas yang disebut cangkang dan bagian bawah yang disebut plastron.
- Ekor kura-kura jantan lebih panjang dengan bagian pangkal yang besar, sedangkan ekor kura-kura betina cenderung pendek dengan pangkal yang kecil.
- Kura-kura jantan biasanya memiliki kuku yang panjang dibandingkan dengan kura-kura betina. Fungsinya dalam perkawinan kura-kura jantan akan mencengkeram cangkang betina menggunakan kuku-kukunya.
- Pada kura-kura dewasa bisa kita bedakan dengan menekan bagian plastron di bawah ekor dengan cara perlahan dan berulang ulang. Jika keluar hemipenis bisa dipastikan kura-kura tersebut berkelamin jantan.
- Pada umumnya kura-kura jantan akan mengikuti kemana betina berjalan pada musim kawin. Jadi bisa dipastikan bahwa kura-kura yang diikuti berjenis kelamin betina dan kura-kura yang mengikuti berjenis kelamin jantan. 


INDIAN STAR (GEOCHELONE ELEGANS)


INDIAN STAR (GEOCHELONE ELEGANS)

Indian star tortoise merupakan spesies dari kura-kura yang hidup di daerah kering dan hutan semak belukar di India dan Sri Lanka. Kura-kura ini cukup populer diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Kura-kura ini dinamakan indian star karena hidup di India dan cangkang yang memiliki pola corak seperti gambar bintang. Kura-kura ini mempunyai nama ilmiah yaitu Geochelone elegans. Berikut klasifikasi dari kura-kura tersebut.

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Sauropsida
Order: Testudines
Suborder: Cryptodira
Superfamily: Testudinoidea
Family: Testudinidae
Genus: Geochelone
Species: Geochelone elegans

ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura ini memiliki karapas yang cembung dan scutes bagian atas membentuk gundukan-gundukan. Mempunyai kepala sedang, dahi agak menonjol atau cembung dan ditutupi perisai yang agak besar dan tidak teratur. Mempunyai karapas hitam dengan garis-garis kuning yang membentuk seperti bintang. Garis ini biasanya sempit dan sangat banyak. Kura-kura ini dapat tumbuh hingga ukuran 10 inchi.

Kura-kura ini termasuk herbivora namun kadang mereka ditemukan memakan bangkai. Makanan yang biasa mereka makan adalah rumput, buah-buahan yang jatuh, bunga, dan dedaunan. Di dalam penangkaran mereka tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi daging.

Dimorfisme seksual kura-kura dewasa terlihat sangat jelas. Betina mempunyai ukuran jauh lebih besar dari jantan. Selain itu, plastron pada kura-kura betina jauh lebih datar dibandingkan kura-kura jantan yang memiliki plastron cekung.

PENYEBARAN
Kura-kura ini mempunyai habitat asli mulai India (kecuali Bengal), ke barat sampai ke Sindh (Pakistan) dan Sri Lanka.

DI DALAM PENANGKARAN
Memelihara kura-kura ini dalam penangkaran sangat sulit dan harus diserahkan pada orang yang harus benar-benar memiliki pengalaman dalam menangani kura-kura tersebut. Mereka sangat sulit untuk diberi makan dan pertumbuhannya sangat lambat. Anakan kura-kura biasanya lebih suka tidur daripada makan dan pada bulan-bulan awal mereka sangat rentan untuk mati.

Sumber foto: http://images.fineartamerica.com/images-medium-large/indian-star-tortoises-geochelone-joel-sartore.jpg
Sumber info: http://jinkuraku.blogspot.com/2012/12/indian-star-tortoise-geochelone-elegans.html
Indian star tortoise merupakan spesies dari kura-kura yang hidup di daerah kering dan hutan semak belukar di India dan Sri Lanka. Kura-kura ini cukup populer diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Kura-kura ini dinamakan indian star karena hidup di India dan cangkang yang memiliki pola corak seperti gambar bintang. Kura-kura ini mempunyai nama ilmiah yaitu Geochelone elegans. Berikut klasifikasi dari kura-kura tersebut.

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Sauropsida
Order: Testudines
Suborder: Cryptodira
Superfamily: Testudinoidea
Family: Testudinidae
Genus: Geochelone
Species: Geochelone elegans

ANATOMI DAN MORFOLOGI
Kura-kura ini memiliki karapas yang cembung dan scutes bagian atas membentuk gundukan-gundukan. Mempunyai kepala sedang, dahi agak menonjol atau cembung dan ditutupi perisai yang agak besar dan tidak teratur. Mempunyai karapas hitam dengan garis-garis kuning yang membentuk seperti bintang. Garis ini biasanya sempit dan sangat banyak. Kura-kura ini dapat tumbuh hingga ukuran 10 inchi.

Kura-kura ini termasuk herbivora namun kadang mereka ditemukan memakan bangkai. Makanan yang biasa mereka makan adalah rumput, buah-buahan yang jatuh, bunga, dan dedaunan. Di dalam penangkaran mereka tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi daging.

Dimorfisme seksual kura-kura dewasa terlihat sangat jelas. Betina mempunyai ukuran jauh lebih besar dari jantan. Selain itu, plastron pada kura-kura betina jauh lebih datar dibandingkan kura-kura jantan yang memiliki plastron cekung.

PENYEBARAN
Kura-kura ini mempunyai habitat asli mulai India (kecuali Bengal), ke barat sampai ke Sindh (Pakistan) dan Sri Lanka.

DI DALAM PENANGKARAN
Memelihara kura-kura ini dalam penangkaran sangat sulit dan harus diserahkan pada orang yang harus benar-benar memiliki pengalaman dalam menangani kura-kura tersebut. Mereka sangat sulit untuk diberi makan dan pertumbuhannya sangat lambat. Anakan kura-kura biasanya lebih suka tidur daripada makan dan pada bulan-bulan awal mereka sangat rentan untuk mati.


Saturday, May 4, 2013

KURA-KURA AMBON (CUORA AMBOINENSIS)


KURA-KURA AMBON (CUORA AMBOINENSIS)

Kura-kura Ambon (Cuora amboinensis) biasa disebut juga dengan kura batok, kura dada, kura kotak atau kura katup. Kura kura jenis ini adalah salah satu jenis kura-kura yang banyak dijual di pasaran. Walaupun namanya kura-kura Ambon, tapi kura kura ini banyak ditemukan juga di Sulawesi, Sumatra dan beberapa negara selain Indonesia seperti Thailand, Philipina, Malaysia, dll.

Kura-kura Ambon termasuk kura-kura yang hidup dengan habitat campuran antara darat dan air atau biasa disebut semi aquatik. Di habitatnya, kura-kura Ambon tinggal di dekat sungai atau sawah dengan berlindung pada rerumputan atau tumbuhan yang ada di sepanjang sungai.

Kura-kura Ambon menyukai ikan kecil, udang dan cacing. Kura-kura Ambon peliharaan dapat diberikan makanan tambahan berupa sayuran atau pelet.

Kura-kura Ambon memiliki cangkang dengan berbentuk seperti kotak dengan berbagai variasi bentuk tinggi dan rendah. Mempunyai warna kekuningan di sekitar muka sampai leher dengan diselingi garis hitam pada wajah.

Sama dengan jenis kura-kura semi akuatik lainnya, memelihara kura-kura Ambon memerlukan ketelitian dan kesabaran. Mulai dari tempat tinggal, tempat makan dan perawatan harus dilakukan secara benar supaya kura kura ambon tidak cepat mati karena sakit. Sebelum membeli kura-kura Ambon sebaiknya tanyakan cara perawatan kura kura ini pada penjualnya. Sebagai tambahan, cari info atau referensi juga tentang perawatan dan pemeliharaan kura-kura  Ambon agar kura kura ambon bisa bertahan hidup lama dan sehat.

Hal yang perlu diperhatikan selain perawatan adalah asal dari kura-kura Ambon yang akan dibeli. Kebanyakan kura-kura Ambon yang dijual berasal dari penangkapan di habitat aslinya. Hal ini tentu saja akan mengganggu keseimbangan alam. Alangkah lebih baik jika Anda membeli kura-kura Ambon yang dihasilkan dari penangkaran.

Untuk yang ingin memilih kura-kura Ambon sebagai hewan peliharaan sebaiknya pikirkan ulang budget dan perawatan kura-kura nantinya. Karena akan sia-sia saja jika sudah keluar uangcukup banyak namun kura-kura Ambon yang dipelihara mati lebih cepat dari perkiraan umur seharusnya.

Sumber foto: http://img252.imageshack.us/img252/4922/dsc3615lc4.jpg
Sumber info: http://www.satwaunik.com/informasi-umum/kura-kura-ambon-cuora-amboinensis/
Kura-kura Ambon (Cuora amboinensis) biasa disebut juga dengan kura batok, kura dada, kura kotak atau kura katup. Kura kura jenis ini adalah salah satu jenis kura-kura yang banyak dijual di pasaran. Walaupun namanya kura-kura Ambon, tapi kura kura ini banyak ditemukan juga di Sulawesi, Sumatra dan beberapa negara selain Indonesia seperti Thailand, Philipina, Malaysia, dll.

Kura-kura Ambon termasuk kura-kura yang hidup dengan habitat campuran antara darat dan air atau biasa disebut semi aquatik. Di habitatnya, kura-kura Ambon tinggal di dekat sungai atau sawah dengan berlindung pada rerumputan atau tumbuhan yang ada di sepanjang sungai.

Kura-kura Ambon menyukai ikan kecil, udang dan cacing. Kura-kura Ambon peliharaan dapat diberikan makanan tambahan berupa sayuran atau pelet.

Kura-kura Ambon memiliki cangkang dengan berbentuk seperti kotak dengan berbagai variasi bentuk tinggi dan rendah. Mempunyai warna kekuningan di sekitar muka sampai leher dengan diselingi garis hitam pada wajah.

Sama dengan jenis kura-kura semi akuatik lainnya, memelihara kura-kura Ambon memerlukan ketelitian dan kesabaran. Mulai dari tempat tinggal, tempat makan dan perawatan harus dilakukan secara benar supaya kura kura ambon tidak cepat mati karena sakit. Sebelum membeli kura-kura Ambon sebaiknya tanyakan cara perawatan kura kura ini pada penjualnya. Sebagai tambahan, cari info atau referensi juga tentang perawatan dan pemeliharaan kura-kura Ambon agar kura kura ambon bisa bertahan hidup lama dan sehat.

Hal yang perlu diperhatikan selain perawatan adalah asal dari kura-kura Ambon yang akan dibeli. Kebanyakan kura-kura Ambon yang dijual berasal dari penangkapan di habitat aslinya. Hal ini tentu saja akan mengganggu keseimbangan alam. Alangkah lebih baik jika Anda membeli kura-kura Ambon yang dihasilkan dari penangkaran.

Untuk yang ingin memilih kura-kura Ambon sebagai hewan peliharaan sebaiknya pikirkan ulang budget dan perawatan kura-kura nantinya. Karena akan sia-sia saja jika sudah keluar uangcukup banyak namun kura-kura Ambon yang dipelihara mati lebih cepat dari perkiraan umur seharusnya.


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes