Showing posts with label Madura. Show all posts
Showing posts with label Madura. Show all posts

Thursday, April 25, 2013

RES ( Red Ear Slider )

Red Ear Slider atau biasa disingkat RES merupakan salah satu jenis kura air. RES memiliki nama ilmiah  ''Trachemys Scripta Elegans''. Di Indonesia, RES biasa disebut dengan kura brazil, namun hal ini masih ada kesalahpahaman, karena ada yang menyebutkan bahwa kura brazil merupakan kura jenis lain, yaitu "Trachemys dorbigni". RES berasal dari bagian selatan Amerika Serikat, memiliki warna tempurung campuran antara hijau dan kuningDaya tahan RES yang kuat membuat kura-kura mudah beradaptasi dengan lingkungan manapun. Umur kura-kura ini dapat mencapai usia 20 tahun dengan panjang maksimal sekitar 30 cm. RES berkembang biak dengan cara bertelur. Jumlahnya bervariasi antara 20 hingga 45 butir tergantung kesuburan dan cuaca.
Berikut ini beberapa foto RES peliharaan ku beserta tempatnya :

 Red Ear Slider ukuran karapas sekitar 5 cm

 Tempat Piara RES perlu disediakan daratan untuk basking / berjemur. Hal ini dapat mencegah tumbuhnya jamur pada tubuh kura-kura. RES juga perlu dijemur pada pagi hari sekitar 10 - 15 menit.

2 ekor RES ku yang aku pelihara di baskom persegi. 



Wednesday, March 14, 2012

KKN Desa Artodung, Kec. Galis, Kab. Pamekasan 2012

KKN ( Kuliah Kerja Nyata ) merupakan salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa. Sekitar 2 minggu yang lalu aku baru saja menyelesaikan KKN di Desa Artodung, Kec. Galis, Kab. Pamekasan. KKN yang semula aku anggap membosankan, menyedihkan bahkan menyusahkan ternyata sebaliknya. Di sana cukup menyenangkan, kondisi desa yang cukup maju menjadikan kelompok ku tidak memerlukan banyak proker ( program kerja ). Di awal pelaksanaan KKN memang masih perlu adaptasi dengan anggota kelompok dan juga dengan masyarakat desa Artodung.


Desa Artodung terletak di Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, berjarak sekitar 15 Km dari kota Pamekasan. Desa ini berada di pinggir jalan raya Sumenep - Pamekasan. Selengkapnya mengenai Desa Artodung bisa dilihat di www.artodung.co.cc

Berikut ini Anggota KKN Kelompok 4 Universitas Trunojoyo 2012 :
 Andi Mariyanto, merupakan orang yang suka bercanda, memiliki suara tertawa yang cukup khas.

 Arief Barawijaya sebagai Kordes ( Koordinator Desa ) merupakan orang di garis depan atau yang berhubungan langsung dengan masyarakat apabila kami akan menjalankan proker.

 R. Aj. Eka Dini Nur Cahya sebagai Sekretaris yang bertugas mengurusi administrasi kelompok. Merupakan orang yang cerewet, membuat suasana posko menjadi rame.

 Fathorrahman, merupakan tipe orang yang serius mempertahankan teori-teorinya, tapi juga sebagai pencair suasana dengan guyonan-guyonan khasnya.

 Ganis Quartety Paskarini sebagai bendahara sekaligus 'juru masak' di kelompok kami.

 Hendri Wahyudi Prayitno. Menyebut dirinya sebagai "Brewok", karena memang wajahnya dipenuhi dengan Brewok. Merupakan Sahabat yang cukup asyik buat cerita.

 Lindung Budiyantoro. inilah aku, hanya sebagai anggota kelompok biasa.

 Lussiana Kurniati. Cewek yang cukup aneh, cukup penakut.

 Lynda Octavia S. Sering membantu dalam banyak program kerja.

 Nihrawi. memiliki suara seperti iklan "Mie Seda*p Ayam Spesial", Hehehe.

 Resbandi Tri Yahkya. merupakan orang yang rajin, tidak hanya urusan proker, tapi juga masalah kebersihan.

 Zhomi Fero Anista. Merupakan orang yang lucu dengan guyonan-guyonan khasnya.

Mereka lah keluarga selama hampir sebulan berada di Desa Artodung. Di  blog ini aku tulis Nama dan Foto kalian, agar kita masih tetap ingat untuk selamanya, Aaamiiin.,.

Thursday, January 12, 2012

Karapan Sapi

Bagi kebanyakan orang, istilah “Karapan Sapi” mungkin sudah tidak asing lagi, terutama untuk masyarakat yang berasal dari Madura maupun bagi pendatang yang tinggal di Madura seperti saya. Ya, Karapan Sapi merupakan salah satu budaya yang berasal dari Madura. Karapan Sapi merupakan perlombaan adu kecepatan sepasang sapi yang ditunggangi oleh seorang joki melawan sepasang sapi yang lain. Budaya ini sampai sekarang masih terus ada dan juga menjadi kebanggaan masyarakat Madura. Sebagai seorang pendatang dari luar Madura, tepatnya dari Kabupaten Madiun, saya kurang memahami tentang Karapan Sapi. Informasi yang berkaitan tentang Karapan Sapi saya peroleh dari media-media online. Dan selama hampir 4 tahun saya tinggal di Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, baru sekali saya menyaksikan karapan Sapi secara langsung yang digelar di alun-alun Bangkalan.

Bagi saya, Karapan Sapi merupakan budaya yang unik, dimana 2 ekor sapi yang dikendalikan seorang joki ( entah apa istilahnya dalam bahasa madura ), harus berlari secepat mungkin untuk mencapai garis finish. Uniknya lagi, joki atau orang yang mengendalikan sapi tersebut masih anak-anak atau orang yang memiliki badan kecil / kurus, hal ini mungkin dimaksudkan agar beban dari sapi ketika berlari tidak terlalu berat, sehingga sapi tersebut bisa berlari cepat menuju garis finish.
Tidak salah apabila Karapan Sapi menjadi kebanggaan masyarakat Madura maupun Bangsa Indonesia. Salah satu perlombaan paling bergengsi dalam Karapan Sapi yaitu, Perlombaan Karapan Sapi Piala Presiden yang digelar setiap tahun. Tentunya sudah terbayang bangaimana kemeriahan perlombaan ini. Ingin rasanya saya bisa menyaksikan Perlombaan Karapan Sapi Piala Presiden ini secara langsung, tapi apa daya, selama ini saya belum pernah menyaksikannya secara langsung. Mungkin di lain kesempatan saya bisa menyisihkan waktu untuk merasakan kemeriahan Perlombaan Karapan Sapi Piala Presiden secara langsung.
Kebanggan lain tentang Karapan Sapi yaitu, digunakannya Karapan Sapi sebagai gambar di mata uang logam Republik Indonesia pecahan Rp. 100,-. Ya, uang logam dari kuningan yang berwarna emas yang hanya bernilai seratus rupiah dan dikeluarkan pada tahun 1991 ini menampilkan karapan sapi di salah satu sisinya.

Ditengah kebanggan tersebut saya sempat membaca sebuah artikel yang melarang penyiksaan terhadap sapi yang akan mengikuti perlombaan. Saya sendiri tidak tahu secara pasti seperti apa penyiksaan yang dilakukan terhadap sapi-sapi tersebut. Tetapi, memang terlihat bekas luka yang ada di bagian belakang sapi tersebut, mungkin hal ini bertujuan untuk mempercepat lari dari sapi - sapi tersebut. Terlepas dari penyiksaan tersebut, ternyata untuk mendapatkan sapi yang berkualitas untuk mengikuti perlombaan harus melalui berbagai macam latihan dan perawatan yang membutuhkan banyak biaya. Perawatan khusus dan pemberian jamu yang diramu secara khusus dipercaya dapat menambah stamina sapi - sapi yang akan mengikuti perlombaan. Pemberian jamu ini akan semakin ditingkatkan menjelang pelaksanaan perlombaan. Tak heran biaya yang dikeluarkan cukup banyak. Banyaknya biaya yang dikeluarkan akan sebanding jika sapi - sapinya menjadi juara yang mengakibatkan harga sapi tersebut melambung tinggi.
Semoga budaya Karapan Sapi ini terus berkembang dan tetap menjadi kebanggan masyarakat Madura pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, bahkan bisa menjadi budaya yang dikenal oleh masyarakat Internasional. Dan juga semoga harapan saya untuk menyaksikan Karapan Sapi Piala Presiden bisa tercapai.
Aaamiiin.,.

Thursday, October 27, 2011

Beda Bahasanya

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa. Oleh karena itu, sebagai warga Negara Indonesia yg baik disarankan untuk menggunakan Bahasa Indonesia ketika berbicara dengan orang lain yg berasal dari daerah lain yg mempunyai latar belakang bahasa daerah yg berbeda.
Ada beberapa kejadian lucu ketika orang dari daerah lain berbicara dengan orang daerah lain, tapi tetap menggunakan bahasa daerah. Contohnya ketika ada orang Jawa yang pergi ke Madura. Si Jawa mampir ke warung, dia bilang ke penjaga warungnya klo dia pengen makan, kemudian orang Madura bilang “sobhung” yang artinya “habis” dalam bahasa Madura. Karena nggak tahu, si Jawa bilang iya dan tetep nunggu di warung. Di benak si Jawa, “sobhung” dikira “sop bung” yang artinya “sayur sop dari rebung (bambu muda)”. Ya percuma ja nunggu di warung lama-lama, karna makanannya emang udah habis. Ada juga  kisah sebaliknya, orang Madura yang pergi ke Jawa kemudian mampir ke toko. Ketika si Madura pengen beli sesuatu, penjual bilang “enthek” yg artinya “habis” dalam bahasa Jawa. Si Madura mengira penjualnya bilang “dhante’ (dibaca dhente’) ” yg artinya “tunggu” dalam bahasa Madura. Jadi si Madura tetep ja nunggu di toko sampai si penjual ngasih tahu klo barang yg mw di beli udah habis. Ya begitulah, perbedaan bahasa bisa menyesatkan atau justru malah menjadikan suatu pengalaman yang lucu.
Kemarin aku juga mengetahui secara langsung perbedaan bahasa yang dapat mengakibatkan salah paham. Lucunya, hal ini terjadi sama-sama di daerah Madura. Memang Madura memiliki 4 kabupaten, dimana tiap kabupaten memiliki bahasanya masing-masing. Temen ku yg berasal dari Pamekasan menelpon temennya yang asli Bangkalan. Dia ingin minta mangga buat rujakan. Si Pamekasan bilang dia minta “pao” yang artinya mangga ( entah mangga muda maupun yang udah matang ) dalam bahasa Pamekasan. Si Bangkalan jawab klo dia gak punya “pao”. Si Pamekasan bilang minta “pao” buat rujakan, si Bangkalan bingung, soalnya “pao” dalam bahasa Bangkalan artinya mangga yang udah matang, jadi gak enak buat rujakan. Trus si Pamekasan ke rumahnya si Bangkalan, karna dia tahu klo si Bangkalan punya pohon mangga. Nyampek di rumahnya si Bangkalan, si Pamekasan kaget, dia melihat banyak “pao” di pohon mangganya si Bangkalan. Si Pamekasan mengira klo si Bangkalan bohong, trus si Bangkalan bilang klo mangga muda tu dalam bahasa bangkalan adalah “pakel” ( gak tahu tulisannya bener apa salah). Tertawalah semua yang ada disitu, ternyata gara-gara beda bahasa bisa membuat orang tertawa, hehehe.,.

Tuesday, September 20, 2011

Bebek Songkem

Nama Bebek Songkem terdengar asing di telinga, namun bagi orang Madura, Bebek Songkem bukanlah hal yang asing. Bebek Songkem adalah makanan khas dari Sampang.
Dari namanya aja sudah cukup jelas, kalau makanan ini menggunakan bebek sebagai bahan utamanya. Bebek yang sudah dibersihkan kemudian dibumbui menggunakan berbagai macam
bumbu. Setelah merata bebek dibungkus menggunakan daun pisang kemudian dikukus. Proses pemasakan yang lama menjadikan bebek ini terasa lembut dan bumbu-bumbunya masuk ke dalam daging.



Salah satu warung yang menyediakan bebek songk
em ini ada di Jl. Trunojoyo, Sampang. Bagi yang suka travelling ataupun berwisata kuliner jangan lupa untuk mencicipi Bebek Songkem ketika berada di Sampang. Rasa pedas dan perpaduan bumbu yang pas membuat orang yang mencicipinya ketagihan. Sekali lagi bagi anda yang mengunjungi kabupaten Sampang jangan lupa untuk mencicipi Bebek Songkem.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes