Showing posts with label Madiun. Show all posts
Showing posts with label Madiun. Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Menikmati Ramen di Kota Madiun

Ramen merupakan salah satu makanan khas Jepang yang saat ini mulai banyak digemari masyarakat Indonesia. Salah satu kedai Ramen yang ada di Madiun adalah Kedai Yuuka. Kedai ini terletak di tengah Kota Madiun, tepatnya di Jl. Bali no. 1B Madiun. Beberapa menu yang disediakan antara lain:

  1. Ramen Tako
  2. Ramen Kikurage
  3. Ramen Naruto
  4. Ramen Kungfu Panda
  5. Sushinori
  6. Curry Rice
  7. Smoke Beef Damayo
  8. Dan juga Aneka Steak
Harganya juga terjangkau, sekitar Rp.20.000,- untuk ramen dan Rp.15.000,- s/d Rp.30.000,- untuk Sushinori. Dari segi rasa juga enak dan juga pas dilidah.
Penasaran??? Berikut ini penampakan Ramen yang sudah saya pesan waktu saya berkunjung ke Kedai Yuuka.



Ramen Kungfu Panda

Disini kita bisa memilih untuk tingkat kepedasannya. Jadi bisa disesuaikan apakah ingin pedas atau yang tidak pedas. Tempatnya juga nyaman dengan ornamen khas Jepang yang menghiasi.
Bagi kalian yang penasaran dan ingin mencoba, silahkan datang dan mencicipi langsung Ramen dan Sushinori dari Kedai Yuuka.

Selamat Menikmati.,. 

Thursday, April 25, 2013

RES ( Red Ear Slider )

Red Ear Slider atau biasa disingkat RES merupakan salah satu jenis kura air. RES memiliki nama ilmiah  ''Trachemys Scripta Elegans''. Di Indonesia, RES biasa disebut dengan kura brazil, namun hal ini masih ada kesalahpahaman, karena ada yang menyebutkan bahwa kura brazil merupakan kura jenis lain, yaitu "Trachemys dorbigni". RES berasal dari bagian selatan Amerika Serikat, memiliki warna tempurung campuran antara hijau dan kuningDaya tahan RES yang kuat membuat kura-kura mudah beradaptasi dengan lingkungan manapun. Umur kura-kura ini dapat mencapai usia 20 tahun dengan panjang maksimal sekitar 30 cm. RES berkembang biak dengan cara bertelur. Jumlahnya bervariasi antara 20 hingga 45 butir tergantung kesuburan dan cuaca.
Berikut ini beberapa foto RES peliharaan ku beserta tempatnya :

 Red Ear Slider ukuran karapas sekitar 5 cm

 Tempat Piara RES perlu disediakan daratan untuk basking / berjemur. Hal ini dapat mencegah tumbuhnya jamur pada tubuh kura-kura. RES juga perlu dijemur pada pagi hari sekitar 10 - 15 menit.

2 ekor RES ku yang aku pelihara di baskom persegi. 



Wednesday, October 10, 2012

Sepeda Fongers

Hampir lima bulan sudah sepeda onthel Fongers ini menjadi koleksi. Sepeda ini didapat dari seorang penjual sepeda onthel yang ada di Desa Wonoasri. Berikut ini foto-foto dari Sepeda Fongers :

Sepeda Fongers


Emblem Merk Fongers


Nomor Seri 69348

Menurut Database Sepeda Belanda, Fongers Seri 69348 ini diproduksi tahun 1914-1915.


Update : Saat ini sepeda ini dijual Rp. 7.500.000,- bisa nego. Jika ada yang berminat, silahkan hubungi nomer ini 083 845 717 943

Monday, July 16, 2012

Jambore Sepeda Kuno se Nusantara, Ngawi, Jawa Timur

Sabtu, 30 Juni 2012 jam 15.00 WIB persiapan mengikuti acara Jambore Sepeda Kuno se Nusantara dimulai. Semua anggota PAGUNO ( Paguyuban Onthel Kuno ) Wonoasri, Madiun berkumpul dirumahku. Sekitar 10 orang ditambah 1 orang yang datang langsung dari Blitar berkumpul lengkap dengan sepeda kuno dan atribut masing-masing.
Anggota PAGUNO

Jam 16.00 WIB kami mulai berangkat menuju ke Caruban untuk bergabung dengan SMS ( Sarono Marganing Saras ) Caruban, yang juga merupakan paguyuban sepeda kuno. Perjalanan menuju Ngawi dimulai sekitar jam 17.00 WIB dengan jumlah anggota sekitar 21 orang. Caruban-Ngawi yang berjarak sekitar 33 Km ditempuh selama 3 jam dengan 3x istirahat. Sampai di Ngawi sekitar jam 20.10 WIB, kami istirahat dan juga berkeliling alun-alun Ngawi yang menjadi lokasi Jambore Nasional.
Keesokan harinya setelah semua persiapan dilalui, dimulailah acara Jambore Nasional Sepeda Kuno se Nusantara.
Acara Jambore Nasional Sepeda Kuno

Seluruh peserta bersepeda mengelilingi kota Ngawi menuju ke Benteng Pendem Van Den Bosch yang menjadi salah satu objek wisata di Kabupaten Ngawi.
Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi, Jawa Timur

Setelah melihat-lihat Benteng Pendem Van Den Bosch, perjalanan pun dilanjutkan mengelililng kota Ngawi, dan akhirnya finish ditempat semula, yaitu alun-alun Ngawi.
Merupakan suatu pengalaman yang mengesankan bisa mengikuti acara Jambore Nasional Sepeda Kuno se Nusantara. Ternyata masih banyak masyarakat yang mempertahankan dan melestarikan sepeda kuno, bahkan banyak juga yang mengoleksinya.
Semoga kegiatan seperti semakin sering diselenggarakan dan juga semakin banyak paguyuban-paguyuban sepeda kuno.,. Aaamiin.,.

Saturday, July 14, 2012

Nama Bupati Madiun Mulai Yang Pertama



Baru kali ini saya memasuki Pendopo Kabupaten Madiun, itupun karena ada acara Pameran Pusaka dan Budaya Dalam Rangka Hari Jadi ke-444 Kabupaten Madiun Tahun 2012. Salah satu hal yang menarik yang ada di Pendopo Kabupaten Madiun adalah adanya nama-nama Bupati Madiun mulai yang pertama. Nama-nama tersebut diukir di batu marmer dan ditempel di dinding depan pendopo. Berikut nama-nama Bupati Madiun mulai yang pertama :

NoNama BupatiTahun
1Pangeran Timoer 1568-1586
2Raden Adjeng Djoemilah 1586-1590
3Raden Mas Rangsang 1590-1591
4Raden Mas Soemekar 1591-1595
5Pangeran Adipati Pringgolojo 1595-1601
6Raden Mas Bagoes Petak 1601-1613
7Pangeran Adipati Mertolojo 1613-1645
8Pangeran Adipati Balitar 1645-1677
9Pangeran Toemenggoeng Balitar Toemapel1677-1703
10Raden Ajoe Poeger1703-1704
11Pangeran Harjo Balater1704-1709
12Toemenggoeng Soerowidjojo1709-1725
13Pangeran Mangkoedipoero1725-1755
14Raden Ronggo Prawirodirdjo I1755-1784
15Pangeran Ronggo Prawirodirdjo II1784-1797
16Pangeran Ronggo Prawirodirdjo III1797-1810
17Pangeran Dipokoesoemo1810-1820
18Raden Toemenggoeng Tirtoprodjo 1820-1822
19Raden Ronggo Prawirodiningrat1822-1861
20Raden Mas Toemenggoeng Ronggo Harjo Notodiningrat 1861-1869
21Raden Mas Toemenggoeng Adipati Sosronegoro1869-1879
22Raden Mas Toemenggoeng Sosrodiningrat1879-1885
23Raden Arjo Adipati Brotodiningrat1885-1900
24Raden Arjo Toemenggoeng Koesnodiningrat1900-1929
25Raden Mas Toemenggoeng Ronggo Koesmen1929-1937
26Raden Mas Toemenggoeng Ronggo Koesnindar1937-1953
27Raden Mas Toemenggoeng Harsojo Brotodiningrat1954-1956
28Raden Sampoerno1956-1962
29Kardiono, BA1962-1965
30Mas Soewandi Pejabat1965-1967
31H. Saleh Hasan1967-1973
32Slamet Hardjo Oetomo1973-1978
33H. Djajadi1978-1983
34Drs. Bambang Koesbandono1983-1988
35Ir. H. S. Kadiono1988-1998
36KRH. H. Djunaedi Mahendra, SH., M.Si1998-2008
37H. Muhtarom, S.Sos2008-

Thursday, April 19, 2012

Sepeda Batavus Cross Frame

Sepeda Batavus Cross Frame merupakan salah satu sepeda yang cukup unik. Bentuk sepeda ini berbeda dengan sepeda kuno yang lainnya. Seperti namanya, 'Cross Frame ' yang artinya 'rangka silang. Maksudnya adalah rangka dari sepeda ini menyilang. Sepeda ini merupakan salah satu koleksi sepeda keluarga ku selain Sepada Hima, dan Fongers. Berikut ini foto dai sepeda Batavus Cross Frame :

 Sepeda Batavus Cross Frame ini tanpa menggunakan rem tangan, tetapi menggunakan sistem torpedo.


 Lampu Bosch Germany


Nomor seri yang ada di rangka sepeda. Batavus Seri 150922


 Aksesoris di bagian depan sepeda berbentuk kuda yang terbuat dari kuningan.


Emblem Merk Batavus

Sepeda ini cukup nyaman dikendarai, namun memiliki rangka yang cukup tinggi. Dengan sistem torpedo, maka sepeda ini tidak membutuhkan rem tangan untuk berhenti.

Wednesday, April 11, 2012

Sepeda HIMA

Sepeda onthel merk HIMA merupakan sepeda produksi Belanda. Sepeda ini cukup nyaman saat dikendarai. Berikut ini foto-foto dari sepeda HIMA milik saya :


Emblem Merk HIMA



Sepeda HIMA dengan lampu merk BOSCH Germany


Aksesori dompet kecil yang diletakkan dibelakang sadel lengkap dengan boncengan.


Aksesoris burung Garuda yang ada di depan.


nomor seri 2170 tidak terlihat dengan jelas di foto.

Wednesday, September 21, 2011

Monumen Keganasan PKI Madiun 1948

Monumen Keganasan PKI Madiun 1948 merupakan salah satu monumen untuk mengenang keganasan dan kebrutalan yang dilakukan oleh PKI ( Partai Komunis Indonesia ) tahun 1948 di Madiun.
Monumen ini terletak di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Di monumen ini terdapat beberapa patung yang menggambarkan keganasan PKI dalam melakukan pembantaian. Monumen yang berada di lereng Gunung Wilis ini memiliki pemandangan atau panorama yang cukup indah. Bagi anda yang melintas di Madiun, jangan lupa untuk mengunjungi Monumen ini.

Thursday, September 15, 2011

Waduk Dawuhan

Wisata ku kali ini ke Waduk Dawuhan. Waduk Dawuhan merupakan salah satu obyek wisata yang ada di Kecamatan Wonoasri. Waduk ini terletak di desa Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. Selain menjadi tempat wisata, waduk ini fungsi utamanya adalah untuk membantu irigasi / pengairan di daerah sekitar waduk.


Foto di atas merupakan kondisi waduk dawuhan ketika musim penghujan.




Foto di atas merupakan kondisi waduk dawuhan ketika musim kemarau.
Ketika musim kemarau, waduk dawuhan dimanfaatkan warga sekitar waduk untuk mencari ikan.

Friday, July 23, 2010

Sejarah Kabupaten Madiun

Kabupaten Madiun ditinjau dari pemerintahan yang sah, berdiri pada tanggal paro terang, bulan Muharam, tahun 1568 Masehi tepatnya jatuh hari Karnis Kilwon tanggal 18 Juli 1568 / Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487 Be - Jawa Islam.

Berawal pada masa kesultanan Demak, yang ditandai dengan perkawinan putra mahkota Demak Pangeran Surya Patiunus dengan Raden Ayu Retno Lembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan Dolopo. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desa Sogaten dengan nama baru Purabaya (sekarang Madiun). Pangeran Surya Patiunus menduduki kesultanan hingga tahun 1521 dan diteruskan oleh Kyai Rekso Gati. (Sogaten = tempat Rekso Gati)

Pangeran Timoer dilantik menjadi Supati di Purabaya tanggal 18 Jull 1568 berpusat di desa Sogaten. Sejak saat itu secara yuridis formal Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak dari tahun 1518 - 1568.

Pada tahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari desa Sogaten ke desa Wonorejo atau Kuncen, Kota Madiun sampai tahun 1590.

Pada tahun 1686, kekuasaan pemerintahan Kabupaten Purabaya diserahkan oleh Bupati Pangeran Timoer (Panembahan Rama) kepada putrinya Raden Ayu Retno Djumilah.. Bupati inilah selaku senopati manggalaning perang yang memimpin prajurit-prajurit Mancanegara Timur.

Pada tahun 1586 dan 1587 Mataram melakukan penyerangan ke Purbaya dengan Mataram menderita kekalahan berat. Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk, Mataram menyerang pusat istana Kabupaten Purbaya yang hanya dipertahankan oleh Raden Ayu Retno Djumilah dengan sejumlah kesil pengawalnya. Perang tanding terjadi antara Sutawidjaja dengan Raden Ayu Retno Djumilah dilakukan disekitar sendang di dekat istana Kabupaten Wonorejo (Madiun)

Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Sutawidjaja dan melalui bujuk rayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Sutawidjaja dan diboyong ke istana Mataram di Pleret (Jogyakarta) sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purbaya tersebut maka pada hari jum'at Legi tanggal 16 Nopember 1590 Masehi nama “Purbaya” diganti menjadi “Madiun ”


Sumber : www.madiunkab.go.id

Saturday, July 10, 2010

Peristiwa PKI Madiun 1948


Peristiwa Madiun adalah sebuah konflik kekerasan yang terjadi di Jawa Timur bulan September – Desember 1948 antara pemberontak komunis PKI dan TNI. Peristiwa ini diawali dengan diproklamasikannya Republik Soviet Indonesia pada tanggal 18 September 1948 di Madiun oleh Muso, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pula oleh Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifoeddin.

Pada saat itu hingga era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun, dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Baru di era Orde Baru peristiwa ini mulai dinamakan Pemberontakan PKI Madiun.

Bersamaan dengan itu terjadi penculikan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Madiun yang tidak baik itu tokoh sipil maupun militer di pemerintahan ataupun tokoh-tokoh masyarakat dan agama.

Masih ada kontroversi mengenai peristiwa ini. Sejumlah pihak merasa tuduhan bahwa PKI yang mendalangi peristiwa ini sebetulnya adalah rekayasa pemerintah Orde Baru (dan sebagian pelaku Orde Lama).


Tawaran bantuan dari Belanda

Pada awal konflik Madiun, pemerintah Belanda berpura-pura menawarkan bantuan untuk menumpas pemberontakan tersebut, namun tawaran itu jelas ditolak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pimpinan militer Indonesia bahkan memperhitungkan, Belanda akan segera memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan serangan total terhadap kekuatan bersenjata Republik Indonesia. Memang kelompok kiri termasuk Amir Syarifuddin Harahap, tengah membangun kekuatan untuk menghadapi Pemerintah RI, yang dituduh telah cenderung berpihak kepada Amerika Serikat (dan bukannya kepada Uni Soviet).

Latar belakang

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, muncul berbagai organisasi yang membina kader-kader mereka, termasuk golongan kiri dan golongan sosialis. Selain tergabung dalam Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), Partai Sosialis Indonesia (PSI) juga terdapat kelompok-kelompok kiri lain, antara lain Kelompok Diskusi Patuk, yang diprakarsai oleh Dayno, yang tinggal di Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Yang ikut dalam kelompok diskusi ini tidak hanya dari kalangan sipil seperti D.N. Aidit dan Syam Kamaruzzaman, melainkan kemudian juga dari kalangan militer dan bahkan beberapa komandan brigade, antara lain Kolonel Djoko Soejono, Letkol Soediarto (Komandan Brigade III, Divisi III), Letkol Soeharto (Komandan Brigade X, Divisi III. Kemudian juga menjadi Komandan Wehrkreise III, dan menjadi Presiden RI), Letkol Dahlan, Kapten Soepardjo, Kapten Abdul Latief dan Kapten Oentoeng Samsoeri

Pada bulan Mei 1948 bersama Soeripno, Wakil Indonesia di Praha, Muso, kembali dari Moskwa, Uni Soviet. Tanggal 11 Agustus, Muso tiba di Yogyakarta dan segera menempati kembali posisi di pimpinan Partai Komunis Indonesia. Banyak politisi sosialis dan komandan pasukan bergabung dengan Muso, antara lain Amir Sjarifuddin Harahap, Setyadjit Soegondo dan kelompok diskusi Patuk.

Pada era ini aksi saling menculik dan membunuh mulai terjadi, dan masing-masing pihak menyatakan, bahwa pihak lainlah yang memulai. Banyak reska perwira TNI, perwira polisi, pemimpin agama, pondok pesantren di Madiun dan sekitarnya yang diculik dan dibunuh.

Pada 10 September 1948, mobil Gubernur Jawa Timur, RM Ario Soerjo, dan mobil 2 perwira polisi dicegat massa pengikut PKI di Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur. Ke-3 orang tersebut dibunuh dan jenazahnya dibuang di dalam hutan. Demikian juga dr. Moewardi dari golongan kiri, diculik ketika sedang bertugas di rumah sakit Solo, dan kabar yang beredar ia pun juga dibunuh. Tuduhan langsung dilontarkan, bahwa pihak lainlah yang melakukannya. Di antara yang menjadi korban juga adalah Kol. Marhadi yang namanya sekarang diabadikan dengan Monumen yang berdiri di tengah alun-alun Kota Madiun dan nama jalan utama di Kota Madiun.

Kelompok kiri menuduh sejumlah petinggi Pemerintah RI, termasuk Wakil Presiden Mohammad Hatta telah dipengaruhi oleh Amerika Serikat untuk menghancurkan Partai Komunis Indonesia, sejalan dengan doktrin Harry S. Truman, Presiden AS yang mengeluarkan gagasan Teori Domino. Truman menyatakan, bahwa apabila ada satu negara jatuh ke bawah pengaruh komunis, maka negara-negara tetangganya akan juga akan jatuh ke tangan komunis, seperti layaknya dalam permainan kartu domino. Oleh karena itu, dia sangat gigih dalam memerangi komunis di seluruh dunia.

Kemudian pada 21 Juli 1948 telah diadakan pertemuan rahasia di hotel "Huisje Hansje" sarangan, dekat Madiun yang dihadiri oleh Soekarno, Hatta, Soekiman Wirjosandjojo (Menteri Dalam Negeri), Mohamad Roem (anggota Masyumi) dan Kepala Polisi Soekanto Tjokrodiatmodjo, sedangkan di pihak Amerika Serikat hadir Gerald Hopkins (penasihat politik Presiden Truman), Merle Cochran (pengganti Graham yang mewakili Amerika Serikat dalam Komisi Jasa Baik PBB). Dalam pertemuan Sarangan, yang belakangan dikenal sebagai "Perundingan Sarangan", diberitakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia menyetujui Red Drive Proposal (proposal pembasmian kelompok merah). Dengan bantuan Arturo Campbell, Soekanto berangkat ke Amerika Serikat guna menerima bantuan untuk Kepolisian RI. Campbell yang menyandang gelar resmi Atase Konsuler pada Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jakarta, sesungguhnya adalah anggota Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen Amerika Serikat.

Selain itu dihembuskan isu bahwa Soemarsoso, tokoh Pesindo, pada 18 September 1948 melalui radio di Madiun telah mengumumkan terbentuknya Pemerintah Front Nasional bagi Karesidenan Madiun. Namun Soemarsono kemudian membantah tuduhan yang mengatakan bahwa pada dia mengumumkan terbentuknya Front Nasional Daerah (FND) dan telah terjadi pemberontakan PKI. Dia mengatakan bahwa FND dibentuk sebagai perlawanan terhadap ancaman dari pemerintah pusat.

Pada 19 September 1948, Presiden Soekarno dalam pidato yang disiarkan melalui radio menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk memilih: Muso atau Soekarno-Hatta. Maka pecahlah konflik bersenjata, yang pada waktu itu disebut sebagai Madiun Affairs (Peristiwa Madiun), dan di zaman Orde Baru kemudian dinyatakan sebagai pemberontakan PKI.

Akhir konflik

Kekuatan pasukan pendukung Muso digempur dari dua arah: Dari barat oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Soebroto, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Soengkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin.

Panglima Besar Soedirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat menumpas pasukan-pasukan pendukung Muso dalam waktu 2 minggu. Memang benar, kekuatan inti pasukan-pasukan pendukung Muso dapat dihancurkan dalam waktu singkat.

Tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di Hotel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.

Baru pada akhir bulan November 1948 seluruh pimpinan dan pasukan pendukung Muso tewas atau dapat ditangkap. Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Amir Syarifuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI, dieksekusi pada 20 Desember 1948 di makam Ngalihan, atas perintah Kol. Gatot Subroto.


Sumber : Wikipedia

Monday, July 5, 2010

Liwetan

Liwetan merupakan sebuah kebiasaan yang ada di Desa Wonoasri, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Istilah liwetan diambil dari kata "liwet" yang artinya suatu cara memasak nasi yang sering dilakukan di desa-desa. Liwetan biasanya diadakan oleh sekelompok pemuda, tapi tidak jarang juga diadakan oleh bapak-bapak.
Liwetan merupakan suatu bentuk kerjasama dan kebersamaan yang cukup kuat. dalam liwetan, lauk yang digunakan bermacam-macam, mulai dari yang paling sederhana berupa sambel tomat, daun singkong rebus, krupuk, sampek yang cukup 'mewah' seperti ayam ato daging sapi.



Beberapa waktu yang lalu aku sempat ikut "liwetan" bersama kakak ku dan temennya. Suasananya sangat akrab, penuh kebersamaan. Setelah bersusah payah masak nasi, lauk pauk dan mempersiapkan segala macam kebutuhan yang diperlukan, akhirnya tiba juga saatnya untuk makan. Nasi yang masih panas dihidangkan di atas daun pisang yang ditata memanjang, hal ini dikarenakan jumlah peserta liwetan cukup banyak, sekitar 10 orang. Nasi yang masih mengepulkan asapnya kemudian di kasih sambel tomat yang udah jadi, beserta daun singkong rebus dan lauk lainnya. Sebagai lauk tambahan, kita menggunakan kelinci goreng yang sangat gurih. Setelah semuanya dibagi rata, makan pun dimulai, dengan bacaan basmallah, semua anak makan dgn lahapnya, menikmati hidangan bikinan sendiri. Dalam liwetan di desaku ada semacam aturan tidak tertulis yang melarang peserta liwetan meninggalkan tempat sebelum semua makanan habis, aturan itulah yang menciptakan rasa kebersamaan, dimulai secara bersama-sama, dan diakhiri juga secara bersama-sama.

Kebersamaan inilah yang membuatku slalu pengen ikut liwetan setiap kali ada yang mengadakannya. semoga tradisi ini bisa terus dilakukan seiring semakin majunya zaman.

Sunday, July 4, 2010

Wonoasri

Wonoasri merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara geografis desa wonoasri berbatasan dengan desa Klitik di sebelah utara, desa Plumpung Rejo di sebelah timur, desa Banyukambang di sebelah barat, dan desa Sidomulyo di sebelah selatan. Tahun 2006, jumlah penduduk desa Wonoasri sekitar 2.393 jiwa yang terdiri dari 1.195 penduduk laki-laki, dan 1.198 penduduk perempuan. Desa Wonoasri dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang dibantu para Perangkat Desa. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar sebagai petani.
Menurut cerita, dahulu Wonoasri adalah sebuah hutan yang sangat indah. Oleh karena itu, daerah tersebut diberi nama Wonoasri,yang berasal dari kata "Wono" artinya hutan, dan "Asri" artinya indah.
Di desa inilah 20 tahun yang lalu aku dilahirkan. Desa yang sangat damai, desa yang membuat aku slalu kangen untuk pulang ke rumah. Di desa inilah masa kecil ku aku lalui, dibimbing oleh dua orang tua ku yang menyayangiku.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes